Pamekasan – Peran pengusaha sekaligus tokoh sosial Madura, Haji Her, kembali menjadi perhatian publik setelah memfasilitasi konser gratis Valen, finalis Dangdut Akademi 7 (D7) asal Pamekasan. Di tengah euforia dan antusiasme masyarakat, kehadiran Pemerintah Kabupaten Pamekasan justru dinilai minim, sehingga menuai kritik dari kalangan aktivis Madura.
Aktivis Madura, Holili, mengapresiasi inisiatif Haji Her yang secara mandiri menginisiasi dan memfasilitasi konser terbuka tersebut. Namun, ia menilai pemerintah daerah terkesan pasif dan berlindung di balik Peraturan Daerah (Perda) tentang hiburan tanpa menghadirkan terobosan kebijakan yang solutif.
“Perda seharusnya menjadi alat pengaturan, bukan penghalang apresiasi. Ketika anak daerah menorehkan prestasi di level nasional, negara semestinya hadir dan memberi dukungan,” ujar Holili, Selasa, 31 Desember 2025.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Pamekasan tidak memfasilitasi penyambutan maupun kegiatan apresiasi bagi Valen dengan alasan keterbatasan regulasi hiburan. Sikap tersebut dinilai mencerminkan pendekatan birokrasi yang kaku dan kurang progresif dalam membaca ruang kebijakan.
Kekosongan peran pemerintah itu kemudian diisi oleh Haji Her. Melalui kapasitas personal dan jejaring sosialnya, tokoh yang dikenal sebagai figur sentral Bawang Emas Grup tersebut memfasilitasi konser Valen D7 dengan konsep terbuka dan gratis, sehingga dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
“Apa yang dilakukan Haji Her membuktikan bahwa kegiatan hiburan tetap bisa berjalan tertib, aman, dan menghormati nilai-nilai lokal. Persoalannya bukan pada regulasi, tetapi pada keberanian mengambil kebijakan,” tegas Holili.
Ia mengingatkan, jika pola pendekatan administratif semacam ini terus dipertahankan, ruang ekspresi dan kreativitas generasi muda Pamekasan berpotensi tergerus. Padahal, prestasi anak daerah semestinya menjadi momentum pemersatu dan kebanggaan kolektif masyarakat.
Sementara itu, kiprah Haji Her kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai pengusaha, tetapi juga figur sosial yang kerap hadir ketika peran negara dinilai belum optimal. Berbagai program sosial, pembangunan rumah warga kurang mampu, serta dukungan terhadap talenta muda menjadi bagian dari rekam jejaknya di Madura.
“Ketika pemerintah memilih berhitung, masyarakat bergerak. Ketika negara ragu, Haji Her melangkah. Itulah mengapa ia kerap disebut sebagai bapak bagi anak-anak Madura,” pungkas Holili.