WhatsApp Menggugat NSO Group Yang Diduga Meretas Data Pengguna
Microsoft, Dell, Nisco hingga Goggle merupakan raksasa teknologi asal Amerika serikat (AS) menekan NSO Group karena teknologinya dianggap berbahaya serta melanggar Undang-undang peretasan.
Sumber : Microsoft sigin

Beritana, Bangkalan - Gugatan dilayangkan WhatsApp kepada perusahaan asal Israel, NSO Group karena ada dugaan memata matai pengguna, Termasuk para wartawan.

Google hingga Microsoft meminta kepada Amerika serikat supaya tidak memberikan kekebalan hukum kepada NSO.

Microsoft, Dell, Nisco hingga Goggle merupakan raksasa teknologi asal Amerika serikat (AS) menekan NSO Group karena teknologinya dianggap berbahaya serta melanggar Undang-undang peretasan.

WhatsApp menggugat NSO Group sejak tahun 2019 lalu, dikarenakan ada dugaan meretas pengguna berjumlah 1400. Perusahaan ini juga dikabarkan meretas sejumlah gadget para jurnalis.

Perusahaan asal Israel ini mengajukan banding atas gugatan ke pengadilan Amerika serikat.

Mengajukan legal brief Microsoft, Dell, Cisco dan Goggle meminta supaya pengadilan tinggi AS tidak mengabulkan pengajuan kekebalan hukum NSO Group.

Microsoft menjelaskan tiga alasan kenapa NSO Group tidak boleh mendapat kekebalan hukum dalam unggahan yang berjudul 'Cyber mercenariesa Don not deserve immunity'

Pertama, teknologi NSO Group dinilai sangat berbahaya jika hal itu jatuh ke tangan orang yang salah. Kedua alat alat yang digunakan dinilai tidak menggunakan batasan yang sama seperti halnya perusahaan swasta lain.

Ketiga alat alatnya dinilai mengancam hak asasi manusia. Microsoft mengatakan "kami yakin model bisnis NSO Group sangat berbahaya. Kekebalan hukum memungkinkan aktor swasta lain melanjutkan bisnis berbahayanya tanpa aturan hukum, tanggung jawab serta akibatnya" dikutip dari the Verge, Selasa (22/12/2020)

Kajian Microsoft atas laporan yang digugatkan WhatsApp kepada NSO Group ke pengadilan di Fransisco, AS. Anak usaha Facebook ini menduga bahwa perusahaan asal Israel itu membantu upaya mata- mata atau spoinase ke pemerintahan 20 negara di 4 benua.

Uni Emirat Arab, Meksiko, hingga Bahrain mengidentifikasi telah mengalami peretasan, sasarannya mulai dari oposisi pemerintah, pejabat senior hingga jurnalis setempat.

Tahun lalu WhatsApp mengatakan dalam pernyataannya bahwa 100 anggota masyarakat sipil mengaku telah diretas "tidak dapat diragukan lagi, ini pola pelecehan teknologi yang nyata" dikutip dari rauters (30/10/2019).

Saat ini spyware pengasuh NSO Group diduga terlibat dalam peretasan ponsel iPhone milik jurnalis berita Al-Jazeera oleh citizen lab di universitas Toronto. "Telepon telepon itu disusupi menggunakan rantai eksploitasi yang kami sebut kismet" kata para peneliti citizen lab dikutip dari BBC Internasional, Selasa (22/12/2020)

Mengatasnamakan UNI Emirat Arab dan Arab Saudi, dicurigai mereka melakukan peretasan setahun terakhir ini.

Kematian jurnalis Washington post Jamal Kashoggi juga dihubungkan dengan NSO Group, seorang pembangkang yang dekat dengan Jamal Kashoggi yaitu Omar AbdulAziz mengajukan gugatan NSO Group membantu Arab Saudi menata matai lewat handphone.

Hak Asasi Manusia dan Amnesty Internasional juga sempat menuduh NSO Group membantu Arab Saudi dalam memata matai anggota star organisasi "perangkat lunak NSO Group digunakan sebagai alat untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia" kata direktur program kantor Amnesty Internasional Israel Molly Malekar, pada 2018 (2/12).

NSO Group membantah bahwa perusahaannya terlibat peretasan puluhan jurnalis Al-jazeera dan Al-Araby tv "kami tidak memiliki akse ke informasi apapun yang terkait dengan identitas individu yang menggunakan sistem untuk pengawasan". Kata juru bicara NSO Group dikutip dari techcrunh Selasa, (22/12/2020).

NSO Group menyatakan bahwa tujuan utama mereka yaitu menyediakan teknologi untuk badan intelijen dan penegak hukum pemerintah dalam memerangi kejahatan serius dan terorisme serta membantah semua tuduhan diatas. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations