Di tangan pemerintahan Joe Biden, sejumlah kebijakan kini menjadi pertanyaan, termasuk perang dagang dengan negeri tirai bambu (China) yang dikibarkan oleh Donald Trump dimasa kepemimpinannya.

Beritana, Bangkalan - Negeri Adidaya Amerika Serikat telah resmi memiliki presiden baru pengganti Donald Trump. Yakni Joe Biden pada Rabu, (20/1/2021) Waktu Amerika Serikat. Di tangan pemerintahan Joe Biden, sejumlah kebijakan kini menjadi pertanyaan, termasuk perang dagang dengan negeri tirai bambu (China) yang dikibarkan oleh Donald Trump dimasa kepemimpinannya.

Lalu, bagaimana nasib perang dagang antara Amerika Serikat dan China setelah Joe Biden dilantik sebagai presiden.

Satri Nugroho Ekonom Institute for Development of Economics and Finance meramalkan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan China akan semakin memanas di era Biden. Dikarenakan, Biden pernah menilai bahwa Trump gagal meningkatkan produksi dalam negeri sehingga kebutuhan domestik perlu ditutupi impor dari China hal tersebut menjadikan defisit anggaran.

Tak hanya, Joe Biden juga pernah memberikan kritik bahwa Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Donald Trump "kalah besar" di kesepakatan dagang dengan China di fase pertama. Salah satunya Amerika Serikat menangguhkan tarif untuk impor produk Elektronik China senula US$160 miliar hal dikarenakan China setuju membeli barang AS senilai US$200 miliar.

"Apakah perang dagang ini akan menurun tensinya? Saya rasa itu tidak akan terjadi, tetap ada bahkan Akan meningkat dikarenakan salah satu kritikan Joe Biden terhadap Trump adalah ketika Trump mentandatangani perjanjian fase 1 dengan China. Di bawah kesepakatan fase 1 dengan China, Amerika Serikat dinilai tidak bisa meningkatkan industri produk dalam negeri," Kata Andry, dikutip Selasa, (19/1/2021).

Tak hanya itu bahkan Andry mendapatkan sinyal bahwa Amerika Serikat di tangan Joe Biden mempunyai potensi untuk menggandeng negara lain untuk memusuhi China. Potensi tersebut juga terbaca dari janji Biden untuk meningkatkan pengadaan infrastruktur dalam rangka mendukung produksi serta mendorong produksi Amerika Serikat.

Josua Pardede yang Merupakan Ekonom Bank Permata menilai perang dagang antara Amerika Serikat dan China akan terus berlangsung di era kepemimpinan Biden. Namun berbeda dengan Andry, dia menilai proyeksinya akan lebih mereda.

Sebab, Josua melihat bahwa Biden merupakan pemimpin yang lebih mengandalkan jalur diplomasi dalam menyelesaikan suatu masalah beda dengan Trump yang terlalu berani untuk langsung mengibarkan bendera perang.

"Joe Biden kemungkinan akan lebih ke jalu multikultural," ucap Andry.

Ari Kuncoro Ekonom sekaligus Rektor Universitas Indonesia juga memberikan pandangan seperti itu, perang dagang masih ada, namun itu masih akan menguntungkan Indonesia.

" Dengan terpilihnya Joe Biden, perang dagang masih akan ada hal tersebut akan memberikan efek ke rantai pasokan dan Indonesia bisa mendapatkan keuntungan. Jadi akan ada dua super power, gajah sama gajah berkelahi, tapi yang cerdik di tengah akan mendapatkan keuntungan," Tutur Ari Kuncoro.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations