Jika Senyummu Hanya Menjadi Topeng Terbaik, Mungkin Ini Saatnya Kamu Berhenti Berakting

Kamu pasti pernah berada di titik di mana kamu tersenyum lebar ke semua orang, padahal di dalam dada rasanya sesak sekali.
Kamu merasa capek, seolah setiap otot di wajahmu sedang dipaksa bekerja keras untuk menutupi retakan yang ada di hati. Kamu tidak sendirian, dan jujur saja, itu hal yang sangat wajar terjadi pada siapa pun yang sedang berjuang sendirian.
Senyum Itu Bukan Berarti Kamu Bahagia
Kadang, senyum yang paling manis justru dipakai buat membungkus luka paling dalam. Kamu melakukannya bukan untuk membohongi orang lain, tapi karena kamu merasa tidak ada orang yang benar-benar sanggup mendengarkan cerita sebenarnya.
Kamu takut kalau sekali saja kamu jujur bilang sedang tidak baik-baik saja, semua orang justru akan pergi atau malah memberi nasihat yang tidak kamu butuhkan. Jadi, kamu memilih menjadi orang yang terlihat paling tegar di ruangan itu, meski hatimu sedang berteriak minta tolong.
Kamu Sedang Menguatkan Diri Sendiri
Mungkin banyak orang mengira kamu tidak pernah punya masalah karena wajahmu selalu terlihat ceria. Padahal, setiap kali kamu tersenyum di depan mereka, kamu sebenarnya sedang memohon pada Tuhan supaya diberi kekuatan lebih untuk bertahan satu hari lagi.
Itu bukan kepalsuan. Itu adalah cara bertahan hidup yang kamu pilih saat dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Kamu ingin tetap terlihat kuat supaya tidak merepotkan orang lain dengan kesedihan yang kamu bawa.
Luka Tak Harus Selalu Diungkapkan
Tidak ada yang salah dengan menyimpan luka itu untuk dirimu sendiri jika kamu memang belum siap bicara. Terkadang, tidak semua rasa sakit bisa dijelaskan dengan deretan kata-kata, dan kamu tidak punya kewajiban untuk membuat orang lain paham atas apa yang kamu rasakan.
Cukup sadari bahwa keberanianmu untuk tetap tersenyum di tengah badai adalah bentuk kekuatan yang sangat besar. Pelan-pelan saja, tidak perlu buru-buru untuk sembuh sepenuhnya karena kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor






