Kadang Berhenti Memperjuangkan Dia Bukan Karena Kamu Menyerah, tapi Kamu Tahu Kapan Harus Pulang

Kamu pernah nggak, sih, nungguin kabar dari seseorang sampai ketiduran dengan HP masih di tangan? Pas bangun, layarnya tetap sepi, dan kamu cuma bisa menghela napas panjang sambil menertawakan diri sendiri.
Rasanya capek banget, dan jujur, kamu tidak sendirian berada di posisi yang melelahkan ini. Banyak dari kita yang sengaja bertahan di dalam ketidakpastian cuma karena telanjur sayang. Kita berpikir kalau sedikit lagi bertahan, dia mungkin akan berubah dan mulai melihat perjuangan kita.
Kamu Nggak Salah, Kok
Berjuang sendirian itu melelahkan.
Kamu sibuk merangkai rencana masa depan, sementara dia bahkan ragu untuk sekadar membalas pesanmu dengan cepat. Cinta memang butuh pengorbanan, tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan kesehatan mental dan harga dirimu demi orang yang enggan bergerak. Hubungan itu jalan dua arah, jadi kalau cuma kamu yang berkeringat, itu namanya olahraga, bukan jatuh cinta.
Lucunya, kadang kita tahu kalau kita sedang memperjuangkan orang yang salah. Hanya saja, mengakui kalau usaha kita sia-sia itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada terus-menerus berharap pada ketidakpastian.
Ini Bukan Soal Menyerah
Memilih pergi bukan berarti kamu kalah.
Langkah kaki yang kamu ambil untuk menjauh adalah bentuk nyata bahwa kamu akhirnya bisa menghargai dirimu sendiri. Kamu tidak kekurangan kasih sayang, kamu hanya sadar bahwa energimu terlalu berharga untuk dihabiskan pada orang yang tidak tahu cara memperlakukanmu. Sekarang saatnya kamu mencari orang yang tidak membuatmu menebak-nebak posisimu di hidupnya.
Yang Kamu Tunggu Itu Nyata
Jadi, mulailah melangkah perlahan dan simpan energimu untuk dia yang tahu cara berjalan beriringan denganmu. Kamu layak mendapatkan kepastian, bukan sekadar janji-janji manis yang menguap begitu saja saat malam berganti pagi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor













