Afrika Bergeser dari Dolar: Yuan China dan Mata Uang Lokal Menguat

Negara-negara di Afrika secara bertahap mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama dalam berbagai transaksi. Kini, Yuan China dan mata uang lokal semakin memainkan peran sentral dalam pembayaran dan pengelolaan utang di benua tersebut.
Pergeseran ini terlihat jelas di Zambia, negara yang puluhan tahun bergantung pada dolar. Penguatan dolar memperburuk krisis utang Zambia pada 2020. Kini, Zambia memelopori penerimaan royalti pertambangan dan pajak dalam yuan, serta mewajibkan transaksi domestik menggunakan kwacha.
Langkah Zambia mencerminkan tren lebih luas di Afrika, di mana Yuan menjadi pilihan menarik. Mesir, Nigeria, dan Afrika Selatan telah menyepakati pertukaran mata uang dengan China. Kenya bahkan mengubah sebagian utang dolarnya menjadi yuan, berpotensi menghemat biaya bunga hingga jutaan dolar.
Selain Yuan, penggunaan mata uang lokal juga didorong kuat untuk transaksi domestik dan perdagangan antarnegara. African Export-Import Bank dan Uni Afrika meluncurkan Pan-African Payment and Settlement System (PAPSS). Platform ini memungkinkan penyelesaian transaksi antarbank menggunakan mata uang lokal, berpotensi menghemat hingga US$5 miliar per tahun.
Transisi ini menimbulkan tantangan bagi perusahaan, seperti penyesuaian kontrak dan biaya operasional. Jibran Qureishi dari Standard Bank mengakui biaya besar transisi ini. Namun, ada pula keuntungan, seperti penguatan kwacha Zambia yang membuat impor lebih murah dan membantu pemerintah mendanai utang.
Dolar AS masih dominan di sistem keuangan global dan Afrika, menguasai utang luar negeri. Namun, volume transaksi Yuan meningkat lebih dari empat kali lipat antara 2020-2024, dan pangsa Yuan dalam cadangan devisa global naik tipis menjadi 1,99%. Ini menandakan Yuan dan mata uang lokal semakin berperan dalam menata ulang lanskap moneter Afrika.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor














