Aset Kripto Bekas FTX Disulap Jadi Infrastruktur Komputasi Kecerdasan Buatan

Perusahaan investasi SWI Group mengumumkan perolehan modal sebesar USD 900 juta atau sekitar Rp14,2 triliun untuk memperluas operasional pusat data dan komputasi kecerdasan buatan.
Dana segar tersebut nantinya akan digunakan guna mendanai ekspansi besar-besaran di wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini melibatkan pengalihan fungsi aset penambangan kripto yang dulunya dikuasai oleh bursa FTX.
FTX sendiri merupakan bursa kripto global yang mengalami kebangkrutan besar pada November 2022 setelah terungkap adanya penyalahgunaan dana nasabah oleh para eksekutifnya. Sebelum runtuh, perusahaan tersebut sempat menanamkan modal signifikan pada Genesis Digital Assets sebagai bagian dari portofolio investasi mereka.
SWI Group kini menguasai mayoritas saham Genesis Digital Assets setelah mengakuisisi sebagian besar kepemilikan saham tersebut senilai USD 500 juta atau sekitar Rp7,9 triliun pada Juni lalu. Pengambilalihan ini menjadi titik balik bagi aset yang sebelumnya terjebak dalam proses hukum kepailitan FTX.
Saat ini, Genesis Digital Assets memiliki 15 fasilitas penambangan dengan kapasitas mencapai 1,3 gigawatt. Perusahaan hasil akuisisi ini telah berganti nama menjadi SWI Digital guna menyesuaikan fokus bisnis mereka menuju komputasi berbasis kecerdasan buatan.
Keputusan investasi ini mengakhiri ketidakpastian hukum yang sempat menyelimuti aset Genesis. CEO SWI Group, Max-Hervé George, memastikan bahwa seluruh sengketa terkait kepemilikan saham FTX di perusahaan tersebut sudah diselesaikan secara resmi.
Perlu diketahui, mantan CEO FTX Sam Bankman-Fried dulunya mengarahkan perusahaan terafiliasi, Alameda Research, untuk membeli 20 persen saham di Genesis. Aksi korporasi tersebut memakan biaya lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp15,8 triliun sepanjang periode 2021 hingga 2022.
Transformasi aset kripto menjadi infrastruktur kecerdasan buatan menjadi tren baru di industri teknologi global. Banyak perusahaan penambangan kripto mulai mengalihkan perangkat keras mereka guna mendukung beban kerja komputasi berat yang dibutuhkan oleh model kecerdasan buatan modern.
Langkah strategis ini menandai pergeseran fokus dari ekosistem kripto yang volatil menuju sektor infrastruktur digital yang lebih stabil. Investor melihat peluang besar dalam kapasitas daya yang sebelumnya digunakan untuk menambang mata uang digital.
Bagi pasar global, manuver SWI Group menunjukkan bagaimana sisa-sisa kegagalan besar di masa lalu dapat dimanfaatkan kembali menjadi kekuatan ekonomi baru. Ketahanan infrastruktur tersebut kini menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor









