Destro AI Ubah Strategi Logistik dengan Integrasi Robot dan Manusia

Startup rintisan asal Amerika Serikat, Destro, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan awal sebesar USD 8 juta atau sekitar Rp124 miliar untuk mengembangkan solusi otomasi gudang yang berbeda dari tren industri robotika saat ini.
Alih-alih memproduksi perangkat keras robot, perusahaan ini menciptakan perangkat lunak kecerdasan buatan sebagai lapisan operasional yang mengoordinasikan interaksi antara mesin dan tenaga kerja manusia secara selaras.
Pendiri Destro, Manthan Pawar, mengungkapkan bahwa kunci kesuksesan mereka terletak pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan operasional pelanggan di sektor logistik. Pawar menekankan bahwa perusahaannya tidak memosisikan diri sebagai pembuat robot, melainkan penyedia sistem koordinasi cerdas yang memungkinkan efisiensi maksimal dalam lingkungan pergudangan.
Seorang veteran di industri rantai pasok ini menjelaskan bahwa banyak perusahaan robotika sering kali terjebak dalam obsesi menciptakan teknologi yang menarik, namun abai terhadap masalah nyata yang dihadapi pelaku industri. Destro justru memilih untuk membangun sistem yang menyelaraskan alur kerja manual dan otomatis secara sistematis.
Salah satu mitra strategis Destro adalah Yusen Logistics, raksasa pengapalan asal Korea Selatan yang mengoperasikan sekitar 30 fasilitas logistik di Amerika Serikat. Richard Brunelle, direktur otomasi di perusahaan tersebut, menyatakan bahwa tantangan utama dalam proses pergudangan adalah aktivitas cross-docking atau pemindahan barang antartruk dengan cepat.
Proses ini menuntut koordinasi presisi antara pekerja, alat pengangkut, dan jadwal kendaraan pengiriman. Sebelumnya, banyak solusi robotika yang ditawarkan ke Yusen hanya mampu menangani mobilitas barang tanpa memberikan instruksi terpadu mengenai proses bongkar muat secara keseluruhan.
Destro hadir dengan sistem Mothership yang mengatur alur kerja tersebut agar berjalan lebih efisien dan terarah. Implementasi perdana di wilayah Pacific Northwest telah menggunakan tiga robot pembawa kereta dari Miva Robotics yang dipandu oleh sistem operasional berbasis model visi-bahasa-aksi milik Destro.
Kini, perusahaan tersebut memperluas cakupan pilot proyeknya ke fasilitas di California Selatan dengan total 26 unit robot. Langkah ini membuktikan bahwa integrasi cerdas antara manusia dan mesin mampu menggantikan metode manual berbasis kertas yang selama ini dianggap kurang efisien.
Meski menghadapi tantangan besar terkait tugas-tugas yang membutuhkan ketangkasan fisik tinggi, Pawar tetap optimistis dengan model bisnis perusahaannya. Ia memandang robot dan model kecerdasan buatan sebagai platform yang memerlukan sistem pelengkap agar dapat memberikan nilai tambah nyata bagi industri global.
Teknologi yang dikembangkan Destro memastikan setiap otomasi yang dipasang di gudang memiliki tujuan operasional yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren teknologi futuristik. Fokus utama bagi pelaku industri saat ini adalah efisiensi, konsistensi, dan fleksibilitas untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan akhir.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor







