Direktur Menara Eiffel Mundur Usai Skandal Pemindahan Staf Perempuan

Patrick Branco Ruivo memutuskan mundur dari jabatannya sebagai direktur utama perusahaan pengelola Menara Eiffel, SETE, di Paris.
Pengunduran diri ini terjadi menyusul temuan investigasi internal mengenai perlakuan tidak pantas terhadap staf perempuan saat kunjungan delegasi kelompok Hindu. Investigasi mengungkap adanya masalah serius dan pelanggaran prosedur operasional selama kunjungan tersebut berlangsung.
Laporan internal yang dirilis pihak manajemen menyebutkan bahwa staf perempuan dipindahkan dari area operasional utama untuk memberi ruang bagi delegasi tamu. Peristiwa ini memicu kemarahan di kalangan serikat pekerja dan aktivis kesetaraan di Prancis yang menganggap tindakan tersebut merupakan bentuk diskriminasi berbasis gender.
Menara Eiffel sendiri dikelola oleh Société d'Exploitation de la Tour Eiffel (SETE), sebuah perusahaan semi-publik yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Paris. Sebagai ikon wisata global yang menerima jutaan pengunjung setiap tahun, insiden ini tentu mencoreng reputasi pengelola dalam menjaga profesionalisme kerja.
Selama proses penyelidikan, ditemukan fakta bahwa keputusan administratif tersebut melanggar nilai-nilai dasar kesetaraan yang dijunjung tinggi oleh institusi publik Prancis. Pihak manajemen akhirnya mengakui bahwa terdapat kekurangan dalam manajemen sumber daya manusia saat menangani tamu internasional.
Pihak serikat pekerja mengungkapkan rasa kecewa karena staf dipindahkan hanya untuk mengakomodasi preferensi kelompok tamu tertentu. Hal ini dianggap merendahkan martabat pekerja yang sedang bertugas di lapangan.
Kondisi ini menimbulkan perdebatan luas mengenai sejauh mana sebuah institusi budaya harus menyesuaikan prosedur mereka dengan permintaan delegasi asing. Di Prancis, prinsip sekularisme dan kesetaraan gender adalah fondasi utama dalam dunia kerja yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan protokol tamu.
Setelah pengunduran diri Branco Ruivo diumumkan, pihak SETE menyatakan komitmen untuk memperbaiki struktur internal dan meninjau ulang kebijakan protokol tamu. Mereka berupaya memastikan insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan demi menjaga nama baik ikon kebanggaan warga Prancis tersebut.
Langkah tegas ini diharapkan mampu menenangkan kegaduhan internal dan mengembalikan fokus perusahaan pada pelayanan publik. Sementara itu, pemerintah kota telah menunjuk pelaksana tugas untuk menjalankan operasional harian perusahaan sembari mencari pengganti permanen yang memiliki visi perbaikan tata kelola.
Kasus ini menjadi peringatan bagi pengelola situs warisan dunia untuk tetap memegang teguh standar operasional meski di bawah tekanan protokol delegasi penting. Kepercayaan publik kini menjadi taruhan utama bagi masa depan manajemen menara besi yang dirancang oleh Gustave Eiffel tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










