Perjalanan Emosional Lionel Messi: Dari Keraguan Publik hingga Legenda Argentina

Lionel Messi, sang megabintang sepak bola, akan melakoni pertandingan terakhirnya berseragam Tim Nasional Argentina pada Rabu, 7 Oktober 2026 pagi WIB. Laga yang dijadwalkan melawan Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires, akan menutup kisah panjang nan penuh perjuangan Messi bersama skuad Albiceleste yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Kisah perjalanannya dengan Argentina sejatinya bermula dengan kerumitan yang mendalam. Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) bahkan sempat menghadapi kesulitan untuk mengidentifikasi seorang talenta muda yang tengah berkembang pesat jauh dari tanah kelahirannya.
“Dia melewati begitu banyak momen sehingga benar-benar ada era yang sangat berbeda,” ujar Sergio Levinsky, seorang jurnalis sekaligus penulis buku “Messi and Everything Else” dari Argentina, kepada Reuters. “Pada awalnya dia sangat menderita bersama tim nasional; dia benar-benar menjalaninya dengan berat.”
Messi muda memutuskan pindah ke Barcelona saat masih remaja. Kala Spanyol berupaya membujuknya untuk memperkuat Timnas Spanyol, Argentina justru belum terlalu mengenal sosok pemain berbakat asal Rosario itu.
Salah satu momen krusial yang kemudian membuka mata Argentina terjadi pada Piala Dunia U-17 2003 di Finlandia. Argentina bertemu Spanyol di semifinal, menelan kekalahan 2-3 setelah melalui babak perpanjangan waktu.
Menurut Levinsky, Cesc Fabregas, yang saat itu masih berstatus pemain muda dan mencetak dua gol untuk Spanyol, pernah berbicara kepada delegasi Argentina seusai pertandingan. Fabregas, yang juga menjadi rekan Messi di akademi La Masia Barcelona, menyatakan bahwa Argentina kalah karena Spanyol memiliki pemain terbaik mereka di Barcelona, dan pemain tersebut adalah seorang genius.
Pelatih Timnas Argentina U-17 kala itu, Hugo Tocalli, juga mengenang pertemuan serupa. Dalam acara Ole Summit bulan lalu, Tocalli menceritakan bahwa kepala staf kepelatihan Spanyol mengatakan Argentina membutuhkan “anak yang bermain di Barcelona” untuk memenangi turnamen.
Namun, upaya menemukan pemain yang dimaksud tidaklah mudah. Omar Souto, seorang pegawai AFA, akhirnya berhasil melacak keluarga Messi di Spanyol melalui buku telepon Rosario.
Ketika akhirnya berhasil terhubung, Souto justru menanyakan keberadaan seseorang bernama “Leonardo.” “Namanya bukan Leonardo, tetapi Lionel,” demikianlah jawaban yang diterima Souto, berdasarkan dokumenter “Messi: The Forgotten Tape.”
Kekeliruan identitas Messi bahkan menjangkau ranah administrasi resmi. Levinsky mengungkapkan bahwa AFA pernah mengirimkan faks kepada Barcelona untuk menanyakan pemain bernama “Mecci.” Nama belakang Messi ditulis dengan dua huruf “c” karena para pejabat kala itu menduga ia mungkin berasal dari Italia.
Setelah berbagai kesulitan tersebut, Messi akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil dua kali dalam laga uji coba bersama Timnas Argentina U-20 pada tahun 2004. Momen itu menandai penampilan awalnya mengenakan seragam biru-putih kebanggaan Argentina.
Namun, keraguan terhadap Messi belum sepenuhnya sirna dari benak publik Argentina. Pada Piala Dunia U-20 2005 di Belanda, Messi bahkan harus memulai turnamen dari bangku cadangan ketika Argentina kalah dalam pertandingan pembuka.
“Banyak penolakan terhadap pemanggilan anak yang tidak bermain di negara sendiri,” kata Levinsky. “Dia harus menghadapi kecurigaan pada awal kariernya dan anggapan sebagai orang asing karena tinggal di Spanyol.”
Messi kemudian sempat menerima kritik tajam karena dianggap tidak mampu menampilkan performa sebanding dengan yang diperlihatkannya bersama klub. Sebagian suporter bahkan memberinya label “pecho frio,” sebuah istilah yang menggambarkan pemain yang dinilai tidak memiliki keberanian atau semangat juang, sebuah tudingan berat dalam budaya sepak bola Argentina.
Pandangan terhadap Messi mulai bergeser secara signifikan dalam laga kualifikasi Piala Dunia melawan Kolombia pada tahun 2011. Argentina tertinggal lebih dulu, namun Messi memimpin tim untuk bangkit dan meraih kemenangan dalam pertandingan yang berlangsung di tengah kondisi sulit.
“Dia kelelahan, bahkan muntah, tetapi akhirnya menang,” ujar Levinsky. Pertandingan heroik itu, menurutnya, menjadi salah satu momen ketika suporter mulai melihat Messi dengan cara yang berbeda, mengakui perjuangannya untuk negara.
Hubungan Messi dengan publik Argentina semakin menguat setelah sang pemain sempat menyatakan pensiun dari tim nasional pada tahun 2016. Keputusan mengejutkan itu diambil setelah Argentina kalah dari Chile melalui adu penalti pada final Copa America.
Alih-alih menyalahkan Messi atas kekalahan beruntun di final, masyarakat Argentina justru bersatu menyerukan agar sang pemain kembali. Menurut Levinsky, publik mulai menyadari bahwa Messi bukanlah penyebab kekalahan-kekalahan Argentina, melainkan sosok yang justru membawa tim nasional berulang kali mencapai partai puncak.
Kedatangan Lionel Scaloni sebagai pelatih kemudian menempatkan Messi sebagai pemimpin utama generasi baru Argentina. Di bawah kepemimpinan Scaloni, Messi berhasil memimpin negaranya meraih dua gelar Copa America dan, yang paling monumental, trofi Piala Dunia 2022.
Perubahan Messi sebagai kapten yang semakin terbuka dalam menyampaikan pandangan dan memimpin tim juga membuatnya kerap dibandingkan dengan legenda Diego Maradona. Namun, bagi Levinsky, perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat di antara dua ikon terbesar sepak bola Argentina itu tidak perlu dilakukan.
“Messi dan Maradona. Mereka sama-sama genius di era yang berbeda,” tegas Levinsky. Kasih sayang masyarakat Argentina kepada Messi, lanjutnya, tidak datang seketika seperti yang dialami Maradona.
Hubungan itu berkembang secara bertahap melalui perjalanan seorang pemain yang masa kecil dan kariernya lebih banyak berlangsung di luar Argentina, namun perlahan kian dekat dengan para pendukung di negaranya. “Messi itu seperti, ‘tiba-tiba mengetahui bahwa Anda memiliki anak laki-laki berusia 18 tahun. Anda harus mulai mencintainya tanpa pernah tahu bahwa dia ada.’ Itu adalah cinta yang dibangun secara perlahan,” pungkas Levinsky.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









