Serangan Drone dalam Perang Saudara Sudan Menewaskan 150 Orang di Abyei

Serangan drone dalam perang saudara Sudan kembali memicu tragedi kemanusiaan dahsyat setelah menewaskan lebih dari 150 orang di wilayah sengketa Abyei. Insiden berdarah ini menegaskan pergeseran taktik militer kedua pihak yang bertikai menuju penggunaan teknologi nirawak jarak jauh.
Pertempuran darat yang mandek memaksa kubu militer dan milisi pemberontak semakin mengandalkan serangan udara berpresisi tinggi tanpa memedulikan keselamatan warga sipil.
Konflik bersenjata antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan milisi Rapid Support Forces (RSF) bentukan Mohamed Hamdan Dagalo telah berlangsung sejak April 2023. Perebutan kekuasaan yang berlarut-larut tersebut kini telah menelan puluhan ribu jiwa dan memaksa lebih dari 10 juta warga mengungsi dari rumah mereka. Dalam beberapa bulan terakhir, pola pertempuran mengalami perubahan dari bentrokan senjata konvensional menjadi gempuran udara jarak jauh menggunakan drone buatan luar negeri.
Wilayah Abyei yang berada di perbatasan antara Sudan dan Sudan Selatan menjadi sasaran empuk karena posisinya yang kaya akan cadangan minyak bumi. Ledakan hebat akibat benturan amunisi nirawak menghancurkan pemukiman padat penduduk serta fasilitas publik tempat warga berlindung dari gelombang pertempuran.
Petugas medis lokal melaporkan bahwa mayoritas korban tewas dan luka berat merupakan wanita serta anak-anak yang berada di pasar utama saat ledakan terjadi.
Analis militer kawasan Afrika Utara menilai keterlibatan teknologi pesawat nirawak mengindikasikan masuknya bantuan logistik dari entitas asing ke arena pertempuran. Kedua belah pihak yang berseteru disinyalir memperoleh pasokan drone serang canggih untuk memukul sasaran musuh hingga radius ratusan kilometer. Langkah pragmatis ini berakibat buruk bagi masyarakat karena proses verifikasi sasaran serangan udara sering kali diabaikan demi melancarkan serangan cepat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengategorikan krisis kemanusiaan di Sudan sebagai salah satu yang terburuk di dunia pada saat ini. Pasokan bantuan medis dan bahan pangan terhambat karena jalur pengiriman darat kerap terhantam proyektil nyasar dari udara.
Kondisi darurat kesehatan di kawasan bergejolak tersebut kian diperparah oleh hancurnya sejumlah rumah sakit utama akibat hantaman bom udara secara beruntun.
Sebelum eskalasi krisis terbaru ini merebak, Abyei berada di bawah pengawasan Misi Pengamanan Sementara PBB untuk Abyei (UNISFA) demi mencegah sengketa antarsuku lokal. Namun, maraknya penggunaan drone tempur membuat pengawasan keamanan di lapangan semakin sulit dilaksanakan oleh pasukan pemelihara perdamaian. Eskalasi di perbatasan ini dikhawatirkan dapat membakar kawasan sekitarnya dan berpotensi menyeret negara tetangga, Sudan Selatan, masuk ke dalam pusaran konflik.
Dampak ekonomi akibat pertempuran nirawak ini juga melumpuhkan sektor pertanian dan perdagangan lokal di wilayah perbatasan. Warga yang tersisa kini bertahan hidup dalam bayang-bayang krisis kelaparan massal akibat hancurnya rantai pasok pangan utama.
Peneliti lembaga pemantau konflik internasional mencatat peningkatan penggunaan pesawat nirawak hingga 300 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan angka tersebut memperlihatkan bagaimana perang saudara modern semakin bergantung pada persenjataan jarak jauh yang minim risiko bagi personel militer, tetapi mematikan bagi warga non-kombatan.
Kawasan yang terus dilanda ketegangan ini menuntut aksi nyata dari dewan keamanan internasional untuk segera menghentikan arus pasokan senjata ke wilayah konflik. Meskipun seruan diplomatik terus digaungkan dari berbagai penjuru dunia, ledakan bom nirawak masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda di langit Sudan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











