WindBorne Raih Kontrak USD 49 Juta dari Angkatan Udara AS untuk Data Cuaca

Angkatan Udara Amerika Serikat resmi menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan rintisan WindBorne Systems dalam pengadaan data atmosfer berbasis balon cuaca otonom. Kontrak bernilai maksimal USD 49 juta atau sekitar Rp767 miliar tersebut menjadi pendanaan terbesar yang pernah diterima oleh perusahaan asal Redwood City, California ini.
WindBorne saat ini mengoperasikan armada sekitar 700 balon cuaca yang tersebar di seluruh dunia untuk mengumpulkan data sensor atmosfer secara real-time. Data ini tidak hanya dijual kepada klien komersial, tetapi juga diintegrasikan langsung ke dalam model kecerdasan buatan atau AI milik perusahaan untuk keperluan prakiraan cuaca.
Pihak Angkatan Udara AS menerapkan skema pembayaran fleksibel yang memungkinkan mereka memesan data untuk wilayah dan waktu tertentu sesuai kebutuhan operasional. Hingga saat ini, nilai pesanan yang sudah masuk mencapai USD 1,7 juta atau sekitar Rp26 miliar, dengan potensi peningkatan volume permintaan di masa depan.
Co-founder sekaligus CTO WindBorne, Andrey Sushko, menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memperluas konstelasi balon cuaca serta mendanai riset pengembangan perangkat keras. Menurutnya, pemerintah memberikan kontrak tanpa proses penawaran kompetitif karena WindBorne dianggap satu-satunya entitas yang mampu menyediakan kemampuan pengumpulan data global sesuai spesifikasi mereka.
Teknologi prakiraan cuaca kini memang tengah mengalami pergeseran paradigma dari metode berbasis superkomputer konvensional menuju pemanfaatan teknologi deep-learning. Model AI mampu memproses data cuaca selama berdekade-dekade dengan durasi yang lebih singkat dibandingkan persamaan fisika yang rumit dan membutuhkan daya komputasi tinggi.
Sebelumnya, WindBorne mencatatkan sejarah sebagai organisasi pertama yang berhasil mengirimkan sistem penerbangan tanpa mesin ke pusat badai topan. Balon-balon ini dapat bermanuver dengan cara mengatur ketinggian secara mandiri, memanfaatkan pola angin untuk mencapai lokasi pemantauan yang sulit dijangkau.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa kombinasi antara model cuaca yang presisi dan armada balon yang tersebar luas mampu mendukung pengambilan keputusan operasional yang krusial. Selain itu, mereka baru saja merilis model WeatherMesh 6 yang diklaim memiliki akurasi lebih tinggi dibanding model tradisional yang dijalankan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.
Penggunaan data atmosfer melalui AI semakin menjadi fokus pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta mitigasi bencana. Alat prakiraan siklon yang dikembangkan saat ini bahkan menjadi instrumen penting bagi pemerintah AS dalam merespons musim badai setiap tahunnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor












