Dilema Anak Muda Memilih Mal atau Taman Kota sebagai Tempat Nongkrong Hemat

Pilihan tempat berkumpul kini menjadi perdebatan menarik bagi generasi muda di tengah meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan akan ruang sosial yang nyaman.
Pusat perbelanjaan atau mal sering dianggap sebagai opsi praktis karena menawarkan fasilitas pendingin udara dan kemudahan akses makan minum. Namun, taman kota mulai dilirik sebagai alternatif untuk bersosialisasi tanpa harus menguras dompet.
Rifa, seorang karyawan swasta di Jakarta, mengaku lebih memilih mal meski menyadari risiko pengeluaran impulsif. Baginya, kenyamanan suhu ruang menjadi penentu utama agar kegiatan berbincang dengan teman tidak terganggu oleh cuaca panas ibu kota.
Kenyamanan fasilitas di mal memang memudahkan pengunjung karena tidak perlu repot membawa peralatan sendiri. Kondisi ini berbanding terbalik dengan taman yang sering kali mengharuskan pengunjung menyiapkan alas duduk agar tidak langsung bersentuhan dengan rumput atau lantai.
Di sisi lain, Zulfa memiliki perspektif berbeda terkait pemanfaatan ruang publik untuk menghemat anggaran. Baginya, nongkrong di taman memberikan kebebasan bagi kelompok muda untuk berbincang tanpa ada kewajiban membeli makanan mahal seperti di kafe dalam mal.
Tren mencari ruang gratis ini pun semakin populer di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Mereka kini lebih sering memanfaatkan perpustakaan daerah atau ruang publik terpadu yang menawarkan suasana tenang serta fasilitas penunjang yang memadai.
Sosiolog dari Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, memberikan analisis terkait fenomena ini. Menurutnya, daya tarik mal terletak pada integrasi fasilitas, mulai dari koneksi internet nirkabel hingga toilet yang terjaga kebersihannya.
Taman kota sering kali kalah bersaing dalam hal kenyamanan dasar. Masalah umum yang ditemukan mencakup keterbatasan tempat duduk, suhu udara yang terik di siang hari, serta minimnya sistem penerangan yang membuat pengunjung merasa kurang aman saat malam tiba.
Pembangunan ruang hijau seharusnya tidak berhenti pada peresmian fisik infrastruktur saja. Pengelola kota perlu menciptakan ekosistem kegiatan, seperti pertunjukan musik atau pasar komunitas, agar taman menjadi ruang interaksi yang hidup.
Kolaborasi dengan komunitas lokal dan pelaku usaha mikro di sekitar lokasi sangat dibutuhkan untuk menghidupkan suasana. Taman yang aman dan aktif akan memberikan alasan bagi masyarakat untuk beralih dari konsumerisme mal menuju gaya hidup ruang terbuka yang lebih inklusif.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor










