AS Roma Hancur di Menit Akhir, Tumbang oleh Tiga Sepak Pojok Real Madrid

AS Roma harus menelan pil pahit kekalahan dramatis saat menjamu Real Madrid pada matchday kedua Liga Champions 2026/2027. Sempat unggul meyakinkan 3-1, Giallorossi justru tumbang 3-4 setelah kebobolan tiga gol dari situasi sepak pojok pada menit-menit akhir pertandingan di Stadio Olimpico, Kamis (15/10/2026) dini hari WIB.
Momen krusial yang menentukan kemenangan Real Madrid terjadi antara menit ke-83 hingga 90.
Dalam rentang waktu yang singkat tersebut, Carlos Espi, Endrick, dan Antonio Rudiger secara bergantian menjebol gawang Roma, seluruhnya melalui skema sepak pojok. Gol-gol tersebut menghukum kelengahan fatal tim ibu kota Italia dalam mengantisipasi bola mati, mengubah hasil pertandingan yang sebelumnya berada di tangan mereka.
Kekalahan ini terasa semakin pahit bagi Roma, mengingat mereka sebelumnya mampu menampilkan performa impresif dan merepotkan salah satu tim terkuat di Eropa.
Mereka bahkan sempat memegang keunggulan dua gol, sebuah posisi yang ideal untuk mengamankan kemenangan di hadapan ribuan pendukung setia di kandang sendiri.
Pelatih AS Roma, Gian Piero Gasperini, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya mendalam terhadap cara timnya mengakhiri pertandingan.
Menurut Gasperini, inti masalahnya bukan terletak pada keseluruhan penampilan Roma yang sebenarnya menjanjikan, melainkan pada kegagalan menjaga konsentrasi total ketika menghadapi ancaman serius dari sepak pojok Real Madrid di fase penutup laga.
"Mereka juga mendapatkan sepak pojok di babak pertama, namun di menit-menit akhir, kami seolah lumpuh karena rasa takut saat menghadapi situasi tersebut; mereka mencetak gol dengan terlalu mudah,” ujar Gasperini kepada Sky Sport usai pertandingan.
Sang pelatih juga menambahkan, “Ada penyesalan yang mendalam, karena pertandingan yang berjalan seperti itu seharusnya tidak berakhir dengan hasil akhir yang demikian."
Sebelum kolaps di menit-menit akhir, Roma menunjukkan permainan menyerang yang agresif dan pertahanan yang solid.
Keunggulan 3-1 yang mereka bangun merupakan cerminan dari strategi yang efektif, namun intensitas tersebut tidak mampu dipertahankan hingga peluit akhir, terutama ketika Real Madrid meningkatkan tekanan dan memanfaatkan kelemahan tuan rumah dalam situasi bola mati.
Tiga gol balasan Real Madrid lahir melalui pola serangan yang nyaris seragam.
Mereka memaksimalkan umpan silang dari sepak pojok untuk menembus pertahanan Roma yang mendadak rapuh. Carlos Espi, Endrick, dan Rudiger menjadi figur-figur sentral yang mengubah jalannya pertandingan secara dramatis, memberikan kemenangan tak terduga bagi tim tamu.
Gasperini menilai Roma seharusnya mampu mengelola keunggulan dengan lebih baik, terutama saat memimpin dengan skor 3-1.
Meskipun Real Madrid dikenal memiliki kualitas individu yang luar biasa dan kerap menjadi ancaman besar dalam situasi bola mati, Roma dinilai terlalu pasif dan reaktif ketika menghadapi tekanan pada penghujung pertandingan, alih-alih mempertahankan inisiatif.
“Kami harus mengambil sisi positifnya; jadi, meskipun kekalahan ini terasa sangat berat, kami harus segera bangkit. Jika tidak, kami berisiko menyia-nyiakan semua hal baik yang telah kami tunjukkan dalam pertandingan ini," ucap Gasperini, menekankan pentingnya respons positif dari skuadnya.
Pelatih berpengalaman asal Italia itu menegaskan bahwa Roma perlu menjadikan kekalahan ini sebagai bahan evaluasi mendalam.
Fokus utama evaluasi adalah pada peningkatan kemampuan dalam mengantisipasi bola mati dan mempertahankan intensitas permainan dari awal hingga peluit akhir, sebuah aspek yang kerap menjadi pembeda di level Liga Champions.
"Hasil ini sangat sulit diterima, namun Roma tentu telah melakukan hal-hal yang sangat baik, yang sayangnya kami rusak di akhir laga," tegas Gasperini.
Ia melanjutkan, "Terlepas dari kemampuan Real Madrid dalam situasi bola mati, kami bermain terlalu pasif, dan itu sangat disayangkan. Kehilangan poin penting di kandang sendiri seperti ini bisa berdampak signifikan pada peluang lolos dari fase grup Liga Champions."
Gasperini memahami bahwa Liga Champions adalah kompetisi yang kejam, di mana setiap kesalahan kecil dapat berakibat fatal.
Oleh karena itu, mentalitas dan fokus tim harus terus diasah untuk menghadapi tantangan selanjutnya, mengingat perjalanan mereka di kompetisi elit Eropa ini masih panjang.
Kekalahan ini juga menjadi pengingat bagi Roma tentang pentingnya konsentrasi penuh hingga menit terakhir, terutama saat berhadapan dengan tim-tim kaliber seperti Real Madrid yang dikenal dengan semangat juang tak kenal menyerah mereka.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373940/original/092653800_1792015153-liverpool.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373964/original/029151900_1792025308-enzo.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373967/original/020681900_1792025561-erling.jpg)