Dion Cools Soroti Kontroversi Kartu Merah Thom Haye, Akui Tensi Panas Laga Timnas Indonesia vs Malaysia

Kapten tim nasional Malaysia, Dion Cools, menyoroti insiden kartu merah yang diterima gelandang Timnas Indonesia, Thom Haye, dalam pertandingan kualifikasi FIFA ASEAN Cup 2026. Laga krusial antara Timnas Indonesia dan Malaysia tersebut berlangsung sengit pada Senin, 28 September, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Cools mengakui adanya tensi tinggi di lapangan, namun ia menekankan bahwa pertandingan tetap berjalan dalam koridor sportivitas.
Thom Haye diusir dari lapangan pada menit ke-34 setelah melanggar sayap kanan Malaysia, Arif Aiman, di area tengah lapangan. Insiden bermula saat Haye berupaya merebut bola, namun kakinya justru menginjak kaki belakang pemain Johor Darul Ta'zim itu.
Awalnya, wasit hanya memberikan kartu kuning atas pelanggaran tersebut. Namun, setelah meninjau kembali keputusan melalui Video Assistant Referee (VAR), wasit mengubah sanksi menjadi kartu merah langsung, memaksa Haye meninggalkan pertandingan lebih awal.
"Itulah sepak bola. Saya belum melihat tayangan ulang insiden kartu merah tersebut, jadi saya tidak bisa menilai keputusan itu," kata Dion Cools usai laga.
Meski tidak dapat mengomentari keputusan wasit secara spesifik, Cools mengakui adanya intensitas permainan yang tinggi. "Tentu ada tensi yang memanas di lapangan, dan terkadang orang-orang ingin memandangnya lebih dramatis dari yang sebenarnya," tambahnya.
Bek senior Harimau Malaya tersebut menilai wasit telah menjalankan tugasnya dengan baik dalam memimpin jalannya laga. Ia berpandangan bahwa gesekan antarpemain dalam pertandingan berintensitas tinggi merupakan hal lumrah. Hal ini wajar mengingat rivalitas panjang antara Timnas Indonesia dan Malaysia yang selalu memicu atmosfer persaingan yang ketat.
Persaingan sengit antara kedua negara tetangga ini memang telah terbangun sejak lama dalam kancah sepak bola regional. Pertemuan terakhir mereka di Piala AFF 2020, yang dimainkan pada tahun 2021, menjadi bukti lain dari dominasi Timnas Indonesia dengan kemenangan telak 4-1 atas Malaysia.
"Menurut saya, pertandingan tadi berjalan wajar," imbuh Dion. Ia juga memuji kinerja wasit yang dinilainya berhasil menjaga emosi para pemain di lapangan, sehingga situasi tidak meluas menjadi kericuhan.
Kartu merah untuk Thom Haye di pertengahan babak pertama mengubah dinamika pertandingan secara signifikan. Timnas Indonesia terpaksa bermain dengan sepuluh pemain selama sisa laga, menuntut perubahan strategi dan adaptasi cepat dari pelatih serta seluruh skuad. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar dalam upaya meraih poin penuh di kandang sendiri.
Laga ini merupakan bagian dari kualifikasi FIFA ASEAN Cup 2026, yang juga berfungsi sebagai babak awal kualifikasi Piala Dunia 2026. Setiap poin yang diraih, atau hilang, memiliki dampak krusial terhadap peluang kedua tim untuk melaju ke fase berikutnya di kancah internasional.
Insiden kartu merah yang melibatkan VAR juga kembali menyoroti peran teknologi dalam keputusan-keputusan penting di sepak bola modern. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan wasit, namun terkadang juga memicu perdebatan mengenai interpretasi dan objektivitas keputusan di lapangan. Kehadiran VAR secara fundamental mengubah cara pertandingan dipantau dan diintervensi.
Pernyataan Dion Cools menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara intensitas persaingan dan semangat sportivitas, terutama dalam rivalitas sepak bola yang panas. Meskipun atmosfer pertandingan seringkali memanas, profesionalisme para pemain dan perangkat pertandingan tetap menjadi kunci untuk menjaga integritas olahraga.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor












