Michael Carrick Balas Kritik Bruno Fernandes Usai Manchester United Dipermalukan Como
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379439/original/039384100_1792622527-carrick.jpg)
Manajer Manchester United Michael Carrick memberikan balasan menohok atas kritik terbuka yang disampaikan kapten tim Bruno Fernandes usai kekalahan memalukan dari Como. Hasil buruk di panggung Liga Champions tersebut memperkeruh suasana internal Setan Merah yang sedang dilanda krisis performa.
Kekalahan telak 1-4 di Stadion Giuseppe Sinigaglia memperpanjang rekor buruk Manchester United menjadi tujuh pertandingan berturut-turut tanpa kemenangan.
Tampil tanpa pola permainan yang jelas, lini belakang Setan Merah berulang kali diekspos oleh skema serangan balik cepat tim tuan rumah. Hasil ini menjadi kekalahan kelima bagi Manchester United dari 11 laga resmi yang sudah mereka jalani sepanjang musim ini. Situasi tersebut menempatkan posisi Carrick di kursi pelatih berada di ujung tanduk.
Pemicu perselisihan berawal ketika Fernandes ditarik keluar pada menit ke-67 dan menyuarakan ketidakpuasannya terhadap taktik tim pelatih. Pemain asal Portugal itu mengkritik keputusan strategi yang dinilainya terlalu pasif dalam mengantisipasi pergerakan lawan.
"Staf pelatih memutuskan untuk tidak melakukan tekanan satu lawan satu, sehingga kami membiarkan ruang di belakang dan hanya menunggu lawan," kata Fernandes.
Pernyataan pedas sang kapten langsung sampai ke telinga Carrick saat sesi jumpa pers setelah pertandingan berakhir. Carrick tak tinggal diam dan menegaskan bahwa skema taktis tidak akan berjalan tanpa adanya kerja keras serta komitmen tinggi dari para pemain. Ia menilai persoalan utama tim bukan terletak pada papan strategi, melainkan pada intensitas kerja di atas lapangan.
"Kami sebenarnya menerapkan skema tekanan satu lawan satu secara parsial pada babak kedua, tetapi justru kebobolan dari situasi tersebut," ungkap Carrick kepada ESPN. Carrick menambahkan bahwa seluruh pemain dituntut aktif bergerak saat menyerang maupun ketika dipaksa bertahan.
"Dengan sistem atau taktik apa pun, jika Anda tidak berlari dan tak mau kembali membantu pertahanan, Anda tidak akan pernah bisa memenangi pertandingan," tegasnya.
Ketegangan antara manajer dan kapten ini semakin mempertegas kekacauan yang sedang melanda raksasa Liga Inggris tersebut. Carrick yang menandatangani kontrak berdurasi dua tahun pada Mei lalu kini menghadapi tekanan terhebat dalam karier kepelatihannya. Padahal, ia sempat membawa angin segar saat mengantar tim finis di peringkat ketiga klasemen akhir Liga Inggris musim lalu.
Usai peluit panjang berbunyi, Carrick berjalan menuju tribun tandang untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada para pendukung. Penampilan anak asuhnya di Italia dianggap sangat jauh dari standar klub sebesar Manchester United.
Meski ancaman pemecatan mulai membayangi, pelatih berusia 43 tahun itu mengaku belum memikirkan nasib masa depannya di Old Trafford. Perhatian utamanya saat ini tertuju pada rasa amarah dan kekecewaan mendalam atas performa anak asuhnya. Ia merasa bertanggung jawab penuh atas hasil mengenaskan yang harus diterima oleh para suporter setia.
"Saya tidak memikirkan posisi saya saat ini karena saya sangat marah dengan cara kami bermain yang sama sekali tidak bisa diterima," ujar Carrick. Ia menegaskan berkomitmen untuk memahami rasa frustrasi para pendukung yang telah melintasi negara demi memberikan dukungan.
Kekalahan dari Como juga memicu kritik tajam dari para pengamat sepak bola Eropa yang menyoroti rapuhnya transisi permainan Manchester United.
Klub asal Italia tersebut berhasil memanfaatkan celah di lini tengah Setan Merah yang sering terlambat kembali saat mendapat serangan balik. Kegagalan meraup poin penuh ini makin memperberat langkah Manchester United untuk lolos dari fase grup Liga Champions. Kondisi ini menuntut Carrick segera menemukan formula terbaik sebelum pertandingan krusial berikutnya di liga domestik.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








