Harga Samsung Galaxy S27 Diprediksi Naik Akibat Krisis Komponen RAM Dunia

Krisis ketersediaan RAM global kini mulai mengancam kantong konsumen produk teknologi tahun depan.
Samsung dikabarkan bakal menaikkan harga jual seri Galaxy S27 di seluruh dunia menyusul lonjakan biaya produksi komponen utama. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut terpaksa melakukan penyesuaian harga demi menjaga margin keuntungan di tengah ketatnya pasokan memori.
Kondisi ini dipicu oleh kebutuhan besar perusahaan teknologi dalam mengakuisisi komponen memori demi pengembangan kecerdasan buatan atau AI. Tingginya permintaan pasar membuat harga komponen kunci melonjak tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Informasi mengenai rencana kenaikan harga ini pertama kali diungkap oleh seorang bloger teknologi asal Korea, yeux1122. Ia menyebutkan bahwa strategi penyesuaian akan diterapkan pada berbagai kapasitas penyimpanan serta variasi model dalam jajaran Galaxy S27.
Kenaikan harga diprediksi tidak hanya terjadi pada model dasar, tetapi juga memperlebar jurang harga antara varian memori rendah dan tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan penggunaan teknologi penyimpanan UFS 5.1 dan RAM LPDDR6 yang jauh lebih canggih sekaligus mahal.
Taksiran kenaikan harga di Korea berkisar antara 100.000 won hingga 130.000 won atau sekitar Rp1,1 juta hingga Rp1,5 juta per unit. Angka tersebut menjadi indikator awal bahwa konsumen di pasar global kemungkinan besar menghadapi kebijakan harga serupa.
Walaupun besaran kenaikan di tiap negara bisa berbeda, tren peningkatan biaya perangkat kelas atas menjadi kenyataan yang sulit dihindari. Pasar global harus bersiap melihat angka yang lebih tinggi di label harga saat peluncuran resmi dilakukan nanti.
Jika melihat tren sebelumnya, seri Galaxy S26 sudah mengalami kenaikan harga di hampir semua varian. Saat itu, model dasar Galaxy S26 dilepas ke pasar dengan harga awal 900 dolar AS (sekitar Rp14,1 juta).
Melihat pola tersebut, tidak menutup kemungkinan harga varian termurah Galaxy S27 bakal menembus angka 950 dolar AS atau setara dengan Rp14,9 juta lebih. Bagi pengguna setia, kenaikan ini menjadi tantangan tersendiri dalam merencanakan pembaruan perangkat ke seri terbaru.
Peningkatan biaya produksi ini merupakan imbas dari persaingan global yang sangat masif di sektor perangkat keras bertenaga AI. Selama pasokan komponen utama masih belum stabil, tekanan terhadap harga jual perangkat elektronik konsumer diprediksi tetap berlanjut.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











