Polisi Belanda Tangkap Peretas ShinyHunters yang Diduga Rencanakan Pembunuhan

Kepolisian Belanda bekerja sama dengan FBI menangkap seorang pria berusia 24 tahun yang diduga sebagai salah satu pemimpin kelompok peretas internasional, ShinyHunters.
Penangkapan ini dilakukan di Amsterdam pada 15 September setelah otoritas melacak jejak digital kelompok yang bertanggung jawab atas peretasan lebih dari 140 organisasi di seluruh dunia. Tersangka kini ditahan setidaknya selama 90 hari untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.
Selain keterlibatannya dalam aksi kriminal siber, polisi menemukan bukti mengejutkan di dalam laptop tersangka. Terdapat data mengenai rencana pembunuhan terhadap dua orang yang akan dilakukan di luar negeri, sebuah temuan yang memicu investigasi terpisah di luar kasus peretasan.
ShinyHunters dikenal luas sebagai sindikat peretas yang menyasar perusahaan besar untuk mencuri data pribadi. Mereka kemudian memeras korban dengan ancaman menyebarkan data tersebut jika uang tebusan tidak segera dibayarkan.
Kelompok ini tercatat pernah membobol sistem milik entitas besar seperti Ticketmaster, Pornhub, dan perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat, AT&T. Serangkaian aksi mereka menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi para korbannya.
Beberapa laporan media, termasuk jurnalis keamanan Brian Krebs, mengidentifikasi pria tersebut sebagai Pepijn van der Stap. Ia sebelumnya dikenal publik sebagai peneliti keamanan siber yang menduduki posisi sebagai chief technology officer di sebuah perusahaan bernama Neo Security.
Operasi penangkapan di kantor Neo Security kabarnya berlangsung dramatis dengan penggunaan granat kejut oleh pihak kepolisian. Meskipun demikian, pihak ShinyHunters melalui pernyataan singkat kepada media menyangkal bahwa van der Stap memiliki hubungan dengan kelompok mereka.
Kabar penangkapan ini mencuat tidak lama setelah adanya laporan mengenai insiden keamanan siber yang menimpa FBI. ShinyHunters mengeklaim telah berhasil mencuri data sensitif milik agen FBI, termasuk nomor jaminan sosial serta laporan kesehatan dari portal lamaran kerja mereka.
Data yang bocor tersebut mencakup laporan psikiatri hingga sampel medis, yang memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan kontra-intelijen. Pihak peretas menyatakan bahwa serangan ke sistem FBI bukan bermotif finansial, melainkan respons atas tuduhan palsu yang diarahkan kepada mereka.
Brett Leatherman dari divisi siber FBI menegaskan bahwa lembaganya akan terus mengejar anggota ShinyHunters lainnya. Pihak berwenang berkomitmen untuk memastikan semua bukti yang disita dapat memproses pelaku secara hukum internasional.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










