Ilmuwan Peringatkan Risiko Banjir Gletser di 8 Negara Himalaya Setelah Bencana Nepal

Para peneliti lingkungan di kawasan Asia Selatan menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas danau-danau es di pegunungan tertinggi dunia. Ancaman banjir bandang akibat mencairnya gletser kini membayangi penduduk di delapan negara yang berada di sekitar jalur pegunungan Himalaya.
Bencana banjir yang menghancurkan Desa Thame di wilayah Everest, Nepal, menjadi pengingat pahit tentang rapuhnya ekosistem puncak gunung tersebut. Kejadian ini memaksa para ahli untuk meninjau kembali kesiapan sistem peringatan dini di wilayah yang dihuni oleh jutaan jiwa tersebut.
Delapan negara yang terancam meliputi Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, China, India, Myanmar, Nepal, dan Pakistan. Semua negara ini saling terhubung melalui aliran sungai besar yang berhulu dari puncak salju yang sama.
Ilmuwan dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menegaskan bahwa pemantauan berkelanjutan mutlak dilakukan. Lembaga tersebut merupakan organisasi antarpemerintah yang memantau perkembangan ekosistem di seluruh kawasan Himalaya.
Data terbaru menunjukkan bahwa gletser di wilayah Himalaya mencair 65 persen lebih cepat pada dekade terakhir dibandingkan periode sebelumnya. Perubahan suhu global yang drastis menjadi faktor utama di balik ketidakstabilan tumpukan es abadi tersebut.
Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai Glacial Lake Outburst Flood (GLOF), sebuah kondisi saat bendungan alami danau gletser pecah secara mendadak. Air yang tersumbat oleh es dan bebatuan tiba-tiba tumpah dengan volume sangat besar ke lembah yang ada di bawahnya.
Banjir jenis ini sangat berbahaya karena sering terjadi tanpa peringatan awal. Massa air yang membawa material batu dan lumpur mampu menyapu pemukiman dalam hitungan menit, seperti yang terjadi di Nepal baru-baru ini.
Suhu di kawasan Himalaya dilaporkan meningkat jauh lebih cepat daripada rata-rata kenaikan suhu global di wilayah lain. Hal ini memicu terbentuknya ribuan danau baru di ketinggian lebih dari 4.000 meter yang dibatasi oleh material yang tidak kokoh.
Pemerintah di delapan negara tersebut didesak untuk mengesampingkan perbedaan politik demi melakukan mitigasi bencana bersama. Pertukaran data meteorologi secara waktu nyata sangat dibutuhkan untuk memberikan waktu evakuasi yang cukup bagi warga di bagian hilir sungai.
Investasi pada teknologi sensor berbasis satelit dan darat diperkirakan membutuhkan dana jutaan dollar AS. Sebagai gambaran, biaya sebesar USD 10 juta (sekitar Rp154 miliar) per tahun jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan hilangnya nyawa.
Pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air di jalur rawan bencana juga menambah risiko kerugian finansial yang masif. Jika satu bendungan di bagian hulu hancur diterjang banjir gletser, dampak domino akan menghancurkan fasilitas lain di sepanjang aliran sungai.
Masyarakat lokal perlu dilibatkan secara aktif dalam mengidentifikasi tanda-tanda perubahan lingkungan di sekitar pemukiman mereka. Pengetahuan tradisional penduduk gunung sering kali mampu membaca gejala alam yang terkadang luput dari pantauan teknologi sensor tercanggih.
Bagi publik di Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran tentang pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi berbasis data yang akurat. Meskipun pemicunya berbeda, karakter bencana bandang yang cepat dan merusak memiliki pola mitigasi yang serupa dalam hal penyelamatan warga.
Adaptasi terhadap perubahan iklim ekstrem kini menjadi keharusan bagi negara-negara yang memiliki wilayah pegunungan tinggi. Tanpa langkah nyata dalam memperkuat sistem pemantauan, tragedi di Nepal berpotensi terulang kembali dalam skala yang jauh lebih mematikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











