Perang Dingin Afghanistan-Pakistan Memanas, Proxy Group Jadi Arena Baru

Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan dilaporkan meningkat, memasuki fase baru yang berbahaya setelah delapan bulan konflik berkepanjangan. Alih-alih konfrontasi langsung, kedua negara kini diduga beralih menggunakan kelompok proksi untuk melanjutkan perseteruan mereka, sebuah dinamika yang menambah elemen ketidakpastian dan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rentan.
Konflik yang berlangsung selama delapan bulan ini telah memakan banyak korban sipil, menciptakan krisis kemanusiaan yang kian memburuk di kedua sisi perbatasan.
Keterlibatan kelompok proksi ini menandai pergeseran taktis dalam strategi kedua negara, yang mungkin bertujuan untuk menghindari keterlibatan militer langsung yang lebih besar namun tetap mempertahankan tekanan satu sama lain. Penggunaan kekuatan tidak langsung semacam ini kerap kali memperumit upaya penyelesaian damai dan meningkatkan risiko terjadinya insiden tak terduga yang dapat menarik negara-negara lain ke dalam konflik.
Para pengamat keamanan regional mengkhawatirkan bahwa pola baru ini dapat memperburuk situasi keamanan di Afghanistan, yang masih berupaya memulihkan stabilitas pasca-pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban. Kelompok proksi yang didukung oleh satu negara dapat secara efektif meningkatkan kekuatan kelompok-kelompok pemberontak atau milisi di negara lain, menciptakan medan pertempuran yang tidak stabil dan sulit dikendalikan oleh pemerintah pusat.
Dampak terhadap warga sipil diperkirakan akan semakin parah, karena pertempuran melalui pihak ketiga seringkali tidak memiliki batasan yang jelas dan dapat menyebar ke wilayah yang lebih luas, mengancam infrastruktur vital dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










