Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran menuntut pihak Washington untuk memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati. Sebelumnya, presiden kedua negara telah menandatangani perjanjian awal untuk mengakhiri perang secara langsung, termasuk komitmen dialog lanjutan dalam waktu 60 hari ke depan.
Ketegangan di lapangan tetap tinggi seiring laporan Kementerian Kesehatan Lebanon yang menyebut sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan udara Israel pada Sabtu lalu. Pasukan Pertahanan Israel menyatakan serangan tersebut menyasar 80 target yang berafiliasi dengan kelompok Hizbullah. Konflik ini kian membara sejak awal Maret dan telah merenggut lebih dari 4.000 nyawa di wilayah Lebanon.
Korps Pengawal Revolusi Islam Iran menuding serangan Israel tersebut melanggar komitmen gencatan senjata sehingga mereka memutuskan untuk menutup Selat Hormuz.
Juru bicara Komando Sentral Amerika Serikat, Tim Hawkins, segera membantah klaim penutupan jalur tersebut dan menyatakan militer AS terus mengawasi situasi agar pelayaran tetap aman. Data pelacakan independen menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker minyak tetap melintas dengan aman di selat tersebut pada hari yang sama.
Selat Hormuz memegang peran sangat besar dalam stabilitas energi global karena mampu dilewati oleh kapal tanker pengangkut minyak mentah ukuran terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari pada tahun 2025. Nilai perdagangan energi yang melewati jalur sempit ini diperkirakan mencapai USD 600 miliar (sekitar Rp9.780 triliun) per tahun.