
Rasanya seperti ada yang jatuh di dalam dada saat kamu menyadari bahwa orang yang paling kamu percaya, baru saja membuang semua usaha kerasmu hanya dalam hitungan detik.
Kamu tidak sendirian yang pernah merasakan sesak ini. Banyak dari kita pernah berada di posisi di mana kita sudah memberikan segalanya, membangun jembatan perlahan, lalu melihat jembatan itu dibakar habis oleh seseorang yang bahkan tidak merasa bersalah.
Kamu mungkin merasa bodoh karena pernah percaya begitu saja. Padahal, memberi kepercayaan adalah bentuk keberanian paling murni yang bisa seseorang lakukan.
Masalahnya, dunia tidak selalu adil dan orang yang kita pilih tidak selalu punya integritas yang sama dengan kita. Dia yang menghancurkan kepercayaanmu dalam hitungan detik itu bukan cerminan dari seberapa berharganya dirimu, tapi cerminan dari kedangkalan dia dalam menghargai sebuah proses.
Memberi kepercayaan pada orang baru itu seperti mencoba berjalan di atas air. Kamu harus ekstra hati-hati karena kamu tahu betapa dalamnya rasa sakit saat kamu jatuh tenggelam oleh pengkhianatan di masa lalu.
Wajar sekali jika kamu sekarang lebih menutup diri dan sering curiga. Itu bukan karena kamu berubah menjadi orang jahat, tapi karena kamu sedang melindungi bagian dirimu yang paling rapuh dari kehancuran yang serupa.
Membangun kepercayaan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, karena kamu harus meyakinkan dirimu sendiri untuk membuang rasa takut. Kamu harus mengabaikan suara di kepala yang berteriak bahwa kamu akan disakiti lagi.
Sayangnya, menghancurkan semua itu sangat mudah. Hanya perlu satu kebohongan, satu pengkhianatan kecil, atau satu pilihan egois darinya, dan seluruh bangunan yang kamu susun dengan susah payah itu akan runtuh begitu saja.
Kepercayaan itu memang seperti kaca yang jatuh ke lantai. Sekali retak, dia tidak akan pernah kembali utuh meskipun kamu berusaha menempelnya dengan lem paling kuat sekalipun.
Ada garis-garis luka yang akan selalu terlihat setiap kali kamu menatapnya. Jangan memaksa dirimu untuk kembali seperti dulu, karena yang pecah tidak perlu dipaksa menyatu, cukup simpan serpihannya sebagai pelajaran agar kamu lebih bijak memilih siapa yang pantas memegang hatimu nanti.
Kamu berhak untuk perlahan-lahan memulihkan diri tanpa perlu terburu-buru memberi kepercayaan pada siapa pun. Pelan-pelan saja, karena kamu adalah pemilik hatimu sendiri dan kamu tidak punya kewajiban untuk membiarkan orang lain merusaknya lagi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor