Amerika Serikat Tarik Pasukan dari Irak, Iran Nyatakan Kemenangan Strategis

Militer Amerika Serikat dijadwalkan secara resmi menarik diri dari pangkalan terakhir mereka di Irak pada Rabu, 30 September 2026. Langkah ini menandai berakhirnya keterlibatan militer langsung Amerika Serikat yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade di negara tersebut sejak invasi tahun 2003.
Penarikan pasukan ini memicu perayaan di kalangan Iran dan kelompok sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Bagi Teheran, kepergian pasukan Washington dianggap sebagai kemenangan strategis besar yang akan memperluas pengaruh politik serta militer mereka di Irak. Analis keamanan Irak, Jasim al-Bahadli, menilai bahwa kepergian tentara Amerika menghilangkan penyeimbang kekuasaan yang selama ini menahan laju dominasi milisi pro-Iran di negara tersebut.
Seorang komandan kelompok Perlawanan Islam di Irak, Abu Mojtaba al-Yasiri, turut memberikan tanggapan resmi mengenai peristiwa bersejarah ini.
Dia menyatakan bahwa tanggal 30 September menjadi momen perayaan bagi rakyat Irak untuk membalikkan halaman hitam dalam sejarah mereka. Yasiri menegaskan bahwa kedaulatan negara harus dijaga oleh perlawanan rakyat, bukan lagi melalui kehadiran pasukan asing di tanah mereka.
Di sisi lain, kekhawatiran besar muncul dari tokoh suku Sunni di Fallujah, Abdulrahman al-Zobaie. Ia memperingatkan bahwa Irak belum sepenuhnya siap untuk mengendalikan situasi keamanan secara mandiri tanpa bantuan asing.
Kekosongan keamanan pasca-penarikan pasukan dapat menjadi celah bagi kebangkitan kembali kelompok teroris ISIS. Perlu diketahui, ISIS adalah organisasi militan transnasional yang sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah sebelum akhirnya dipukul mundur oleh koalisi internasional pada 2017.
Amir Hayat Moqaddam, Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyambut baik langkah ini secara terbuka. Ia mengatakan bahwa Iran mendukung penuh keputusan tersebut demi stabilitas kawasan yang lebih mandiri dari intervensi Barat.
Namun, peringatan serius datang dari para pejabat keamanan Irak terkait risiko hilangnya dukungan intelijen serta logistik yang selama ini disediakan oleh Amerika Serikat. Komandan Kurdi, Sirwan Barzani, melaporkan adanya peningkatan aktivitas sel tidur ISIS segera setelah pengumuman penarikan koalisi internasional dibuat.
Ancaman serangan bunuh diri dari anggota ISIS yang masih bersembunyi kini menjadi perhatian utama aparat keamanan setempat, termasuk Kolonel Khalid al-Bayati dari Kirkuk. Sebagai bagian dari transisi hubungan bilateral, pemerintah Irak telah mengambil alih pusat dukungan diplomatik Kedubes Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad pada 24 September 2026.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyatakan bahwa tanggal 1 Oktober akan menjadi awal dari era baru bagi kedaulatan nasional negaranya. Meski transisi menuju kemitraan baru telah disepakati, tantangan untuk menjaga stabilitas domestik tetap menjadi ujian nyata bagi pemerintah Irak di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor









