Analisis Aliran Modal Bitcoin: Kenaikan Harga Belum Ditopang Investasi Baru

Kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini ternyata belum sepenuhnya mencerminkan masuknya modal segar ke dalam pasar aset kripto global.
Data terbaru dari platform riset kripto Glassnode menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin dalam 30 hari terakhir hingga 5 Oktober 2024 lebih banyak didorong oleh pemegang aset lama, bukan investor baru. Sepanjang periode tersebut, arus masuk modal baru yang mencakup pembelian oleh kas korporasi, pertumbuhan stablecoin, serta aliran dana ke bursa ETF Bitcoin di Amerika Serikat hanya mencapai USD 4,9 miliar atau sekitar Rp76,9 triliun.
Angka ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan kenaikan kapitalisasi terealisasi Bitcoin yang melonjak hingga USD 12,8 miliar atau setara Rp201 triliun dalam kurun waktu yang sama. Kapitalisasi terealisasi adalah metode penilaian aset berdasarkan harga saat koin terakhir berpindah tangan di jaringan blockchain.
Situasi ini mengindikasikan bahwa modal baru hanya menyumbang kurang dari dua perlima dari total kenaikan harga tersebut. Selebihnya merupakan aktivitas perpindahan kepemilikan koin antar investor yang sudah lama berada di pasar dengan harga yang lebih tinggi.
Pola divergensi ini sebenarnya telah terlihat sejak instrumen ETF Bitcoin diluncurkan di bursa Amerika Serikat pada Januari 2024. Namun, kondisi saat ini jauh lebih menantang karena arus masuk modal yang moderat tidak sebanding dengan lonjakan keuntungan jangka pendek di pasar.
Sejak 21 September, harga Bitcoin telah mencoba menembus level psikologis USD 87.000 sebanyak empat kali tetapi selalu gagal. Kegagalan tersebut terjadi akibat meningkatnya tekanan jual di buku pesanan bursa yang menghambat laju reli aset kripto utama ini.
Pada perdagangan Kamis, harga Bitcoin bergerak di kisaran USD 83.000 atau sekitar Rp1,3 miliar, mencatat penurunan bulanan sebesar 1 persen. Pasar tampak mulai jenuh dengan aksi ambil untung oleh para spekulan jangka pendek.
Glassnode mencatat bahwa saat Bitcoin mencatatkan penutupan mingguan di atas level USD 85.000, sekitar 86 persen koin yang dikirim ke bursa berasal dari pemegang jangka pendek. Mereka adalah investor yang menahan aset kurang dari 155 hari dan memutuskan untuk merealisasikan keuntungan.
Angka tersebut merupakan persentase tertinggi sepanjang satu tahun terakhir dibandingkan hari-hari biasanya yang berada di bawah 40 persen. Para pemegang jangka pendek ini memang dikenal lebih sensitif terhadap volatilitas harga dibandingkan investor institusi atau pemegang jangka panjang.
Meskipun demikian, secara agregat, kelompok investor ini masih berada dalam posisi untung. Berdasarkan data dari CryptoQuant, basis biaya atau harga terealisasi bagi kelompok pemegang jangka pendek berada di kisaran USD 78.250 atau sekitar Rp1,22 miliar hingga 7 Oktober.
Stabilitas harga di atas level biaya tersebut menjadi penentu utama apakah tren kenaikan akan berlanjut atau justru terkoreksi dalam beberapa waktu ke depan. Pasar saat ini menantikan kepastian aliran modal tambahan untuk menjaga momentum di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













