Analisis Konflik Yaman, Mengapa Intervensi Saudi Menjadi Medan Perang Sulit

Koalisi pimpinan Arab Saudi kembali mengumumkan kampanye militer terhadap milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Langkah ini seketika membangkitkan ingatan publik mengenai upaya intervensi serupa yang sempat berlangsung selama bertahun-tahun. Upaya militer tersebut kini kembali memicu kekhawatiran terkait eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Houthi merupakan kelompok pemberontak Zaidi Syiah yang menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014. Mereka kerap mendapatkan dukungan logistik dan persenjataan dari Teheran, yang menjadikan konflik ini sebagai ajang persaingan pengaruh regional antara Riyadh dan Iran.
Intervensi Arab Saudi pertama kali dimulai pada Maret 2015 dengan janji kemenangan cepat untuk memulihkan pemerintahan yang sah. Harapan tersebut pupus ketika perang berubah menjadi kebuntuan panjang yang menguras sumber daya keuangan dan reputasi internasional kerajaan tersebut.
Estimasi biaya perang yang dikeluarkan Saudi sejak 2015 mencapai miliaran dolar AS setiap bulannya. Jika dikonversi, pengeluaran ini setara dengan triliunan rupiah yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur domestik di dalam negeri.
Kondisi geografis Yaman yang bergunung-gunung memberikan keuntungan taktis bagi milisi Houthi dalam menghadapi serangan udara koalisi. Mereka mampu menyembunyikan aset militer dengan efektif, membuat serangan presisi menjadi sangat sulit dilakukan oleh angkatan udara Saudi.
Dampak kemanusiaan dari konflik ini tergolong sangat memprihatinkan bagi penduduk sipil di Yaman. Jutaan orang terpaksa kehilangan tempat tinggal, sementara krisis pangan dan wabah penyakit terus membayangi kehidupan masyarakat di wilayah yang terdampak perang tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sering menyebut situasi di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini. Kurangnya akses bantuan internasional memperparah penderitaan penduduk yang terjepit di antara garis depan pertempuran berbagai faksi bersenjata.
Pengamat keamanan global menilai bahwa pilihan militer sering kali gagal mencapai solusi permanen tanpa adanya dialog inklusif. Tekanan diplomatik dari negara-negara Barat pun mulai meningkat, mendesak semua pihak yang berseteru untuk kembali ke meja perundingan sesegera mungkin.
Sejauh ini, Riyadh masih menghadapi dilema besar antara menjaga keamanan perbatasan selatan dari serangan rudal Houthi dan kebutuhan untuk keluar dari jeratan perang yang tidak kunjung usai. Keputusan untuk kembali terlibat secara aktif dalam kampanye militer saat ini menandakan bahwa stabilitas di kawasan tersebut masih jauh dari kata damai.
Keberhasilan kampanye militer kali ini akan diuji oleh seberapa besar koalisi mampu menyeimbangkan tekanan militer dengan upaya diplomasi yang efektif. Tanpa strategi keluar yang jelas, ancaman terjebak kembali dalam konflik berkepanjangan menjadi risiko nyata yang membayangi kebijakan luar negeri Arab Saudi di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











