Bruno Fernandes Kritik Taktik Manchester United Usai Dibantai Como 1-4 di Liga Champions
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379438/original/086863600_1792622374-BRUNO_2.jpg)
Kapten Manchester United Bruno Fernandes melontarkan kritik keras terhadap pendekatan taktik timnya setelah kekalahan memalukan 1-4 dari Como pada laga ketiga fase grup Liga Champions. Hasil buruk di Stadio Giuseppe Sinigaglia tersebut menelanjangi rapuhnya skema permainan Manchester United yang dinilai terlalu pasif menghadapi agresivitas tuan rumah.
Fernandes bahkan terang-terangan menyebut keputusan untuk tidak menerapkan penjagaan satu lawan satu atau man-to-man pressing sepenuhnya murni berasal dari instruksi staf pelatih.
Kekalahan telak ini kembali menegaskan penyakit lama Setan Merah yang kerap kehilangan fokus pada menit-menit awal pertandingan. Gawang Manchester United sudah jebol saat laga baru berjalan kurang dari lima menit, mengulangi skenario serupa ketika dibendung Atletico Madrid dua gol tanpa balas. Karakter permainan yang lambat panas memicu kepanikan di lini belakang sehingga Como dengan leluasa mengendalikan tempo permainan.
Sebaliknya, Como tampil luar biasa percaya diri di hadapan pendukungnya sendiri. Klub Italia yang tiga tahun lalu masih berlaga di Serie B, divisi kedua Liga Italia, kini justru mengumpulkan enam poin dari tiga laga awal debut mereka di pentas tertinggi Eropa.
Gelandang asal Portugal itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas performa buruk tim secara keseluruhan. Menurut Fernandes, buruknya alur bola dan minimnya tekanan kepada lawan membuat timnya terus tertekan sepanjang 90 menit. Manchester United dinilai gagal mengimbangi kolektivitas pemain Como sejak awal tiup peluit dimulainya pertandingan.
"Ini bukan yang pertama kalinya; kami mengawali laga dengan buruk dan mereka mencetak gol sangat cepat," ujar Fernandes saat diwawancarai seusai pertandingan.
Ia menambahkan bahwa kebobolan dini merusak rencana permainan serta meruntuhkan kepercayaan diri para pemain. Kondisi ini membuat upaya membangun serangan menjadi sangat sporadis dan mudah dipatahkan barisan pertahanan lawan.
"Tidak ada tekanan berarti terhadap pemegang bola, pergerakan saat menguasai bola pun kurang baik, dan banyak hal tidak berjalan sesuai keinginan kami," tutur pemain berusia 30 tahun tersebut.
Keleluasaan Como dalam mengembangkan permainan disinyalir berhubungan erat dengan instruksi taktis dari jajaran pelatih. Staf pelatih meminta para pemain untuk bertahan lebih dalam ketimbang melakukan tekanan tinggi sejak lini depan. Strategi yang semula bertujuan menunggu momen merebut bola itu justru memberikan ruang gerak luas bagi para pemain Como untuk berkreasi.
"Ada keputusan dari staf pelatih untuk tidak melakukan tekanan man-to-man, terkadang membiarkan ruang di lini belakang, lalu menunggu dan mencoba merebut bola," kata Fernandes menjelaskan skema taktik yang diterapkan.
Namun, pilihan taktis tersebut terbukti menjadi kendala besar saat menghadapi tim yang memiliki aliran bola cepat. Kebebasan ruang yang diberikan justru membuat kepercayaan diri para pemain Como melambung tinggi sepanjang laga.
Tensi tinggi dan frustrasi sang kapten memuncak ketika ia ditarik keluar pada babak kedua. Laporan wartawan di pinggir lapangan menyebutkan Fernandes sempat meluapkan amarahnya dengan memukul bangku cadangan saat menuju area pemain pengganti. Tindakan tersebut mencerminkan tingginya tekanan yang tengah dihadapi skuad Setan Merah usai serangkaian hasil yang mengecewakan.
Di lapangan, Como tampil klinis memanfaatkan setiap celah di lini pertahanan lawan. Nico Paz menjadi bintang lapangan dengan menyumbang dua gol, dilengkapi sundulan dari Tasos Douvikas dan aksi Jacobo Ramon yang mengunci kemenangan telak tuan rumah.
Kekalahan ini menahan Manchester United di posisi bawah klasemen sementara fase grup dengan raihan tiga poin dari tiga pertandingan. Sementara itu, Como makin kokoh di papan atas dengan koleksi enam poin, memelihara asa untuk melangkah lebih jauh di Liga Champions.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor











