Dampak Konflik Houthi dan Yaman terhadap Stabilitas Ekonomi Afrika Timur

Eskalasi konflik antara milisi Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman kini merembet jauh melampaui wilayah Timur Tengah. Dampak ketegangan di Selat Bab el-Mandeb mulai dirasakan secara nyata oleh negara-negara di pesisir Laut Merah Afrika, termasuk Djibouti dan Ethiopia.
Pada September lalu, milisi Houthi berhasil merebut Pulau Perim yang terletak di titik tersempit Selat Bab el-Mandeb. Wilayah ini merupakan jalur vital penghubung pintu masuk selatan Laut Merah dengan Teluk Aden, yang posisinya hanya berjarak 20 kilometer dari Djibouti.
Kondisi ini memicu kekhawatiran global terkait terhambatnya rantai pasok maritim dunia. Jika jalur laut ini tidak dapat dilalui, perusahaan pelayaran terpaksa mengalihkan rute melalui Terusan Suez atau memutar hingga ke ujung selatan Afrika yang akan menambah beban biaya operasional secara signifikan.
Biaya tambahan tersebut dipastikan bakal dibebankan kepada konsumen akhir di berbagai negara. Sektor energi dan komoditas, seperti bahan bakar serta pupuk, kini menjadi komoditas yang paling terdampak akibat kenaikan tarif asuransi risiko perang bagi kapal niaga.
Penderitaan kemanusiaan pun mulai terlihat jelas di Djibouti. Berdasarkan data UNHCR, sedikitnya 3.700 pengungsi telah menyeberang dari Yaman sejak pertengahan September, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak yang kini menetap di wilayah Obock.
Alessandra Roccasalvo, perwakilan UNDP untuk Djibouti, mengungkapkan tantangan logistik yang dihadapi negaranya. Wilayah Obock merupakan kawasan gersang yang tidak memiliki sumber air tanah, sehingga seluruh kebutuhan air harus melalui proses desalinasi yang memerlukan biaya besar.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor















