Diplomasi AS di Peru Terbentur Kuatnya Pengaruh China di Kawasan

Rencana kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio ke Peru pekan ini mempertegas ketegangan geopolitik yang dipicu oleh besarnya pengaruh China di Peru. Washington kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa negara-negara Amerika Latin semakin enggan melepas kemitraan ekonomi mereka dengan Beijing meskipun terus ditekan oleh Gedung Putih.
Kunjungan diplomatik ini terjadi di tengah kekhawatiran mendalam pemerintahan Donald Trump terhadap perluasan investasi infrastruktur Beijing di wilayah yang secara historis dianggap sebagai halaman belakang Amerika Serikat. Salah satu proyek paling mencolok yang memicu alarm keamanan di Washington adalah pembangunan Pelabuhan Megah Chancay, sebuah pelabuhan laut dalam senilai USD 3,5 miliar (sekitar Rp55,6 triliun). Hub logistik raksasa yang didanai dan dikendalikan oleh perusahaan pelat merah China, Cosco Shipping, ini dirancang untuk memangkas waktu pelayaran logistik dari Amerika Selatan ke Asia secara signifikan.
Pemerintah Peru menegaskan bahwa proyek infrastruktur raksasa tersebut murni bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik mereka yang sedang lesu.
Bagi Lima, ibu kota Peru, kehadiran modal dari China merupakan solusi konkret ketika investasi dari korporasi Barat cenderung minim. Hubungan dagang kedua negara bahkan telah melampaui nilai perdagangan Peru dengan Amerika Serikat sejak satu dekade lalu.
Data dari Kementerian Perdagangan Luar Negeri Peru menunjukkan bahwa China kini menyerap lebih dari sepertiga total ekspor Peru, terutama komoditas tembaga dan produk pertambangan lainnya. Ketergantungan ekonomi yang mendalam ini membuat seruan Washington untuk membatasi kerja sama dengan Beijing hampir mustahil dipenuhi. Kondisi ini menempatkan diplomat seperti Rubio dalam posisi tawar yang sulit karena mereka tidak membawa alternatif investasi dengan nilai yang sebanding.
"Kami tidak bisa menolak investasi yang nyata demi sebuah janji kerja sama yang belum pasti," ujar seorang pejabat senior diplomatik Peru yang menolak disebutkan namanya.
Para analis menilai bahwa pendekatan konfrontatif pemerintahan Trump terhadap pengaruh China di kawasan ini justru berisiko mengisolasi Amerika Serikat sendiri. Tanpa adanya skema pembiayaan alternatif yang menarik, negara-negara berkembang akan terus melihat Beijing sebagai mitra pembangunan yang lebih pragmatis dan tanggap.
Krisis kepercayaan ini diperparah oleh retorika proteksionis yang kerap digaungkan dari Washington. Kebijakan tarif tinggi yang diancamkan oleh Trump justru mendorong negara-negara Amerika Latin untuk lebih mendiversifikasi pasar ekspor mereka ke wilayah Asia. Langkah diversifikasi tersebut otomatis memperkuat posisi tawar China yang terus memosisikan dirinya sebagai pembela globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas.
Situasi di Peru ini merefleksikan tren yang lebih luas di seluruh kawasan Amerika Latin, mulai dari Brasil hingga Argentina.
Negara-negara tersebut kini lebih memilih jalur diplomasi pragmatis yang menyeimbangkan hubungan dengan kedua kekuatan dunia tanpa harus memihak. Kerja sama ekonomi dilakukan dengan Beijing, sementara kemitraan keamanan tradisional tetap dijaga bersama Washington.
Kini, Washington harus menerima kenyataan bahwa dominasi ekonomi mereka di belahan bumi barat tidak lagi mutlak. Negara-negara tetangga kini memiliki opsi pendanaan yang lebih beragam dan kompetitif. Ketergantungan sejarah pada pasar Amerika Serikat perlahan mulai tergeser oleh raksasa Asia tersebut.
Lawatan Rubio pekan ini tampaknya akan menjadi pembuktian sejauh mana efektivitas diplomasi tekanan AS di tengah realitas ekonomi baru Amerika Latin.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor

















