
Ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sukses melangkah ke babak final Denmark Open 2026. Keberhasilan ini diraih setelah mereka menumbangkan unggulan China, Liang Wei Keng/Wang Chang, dalam laga sengit tiga gim.
Pertandingan yang berlangsung di Jyske Bank Arena, Odense, pada Sabtu malam waktu setempat tersebut berakhir dengan skor 21-16, 16-21, dan 21-16.
Kemenangan ini menjadi pencapaian besar bagi pasangan Fajar/Fikri dalam tur Eropa kali ini. Mereka menunjukkan ketangguhan mental yang stabil menghadapi tekanan dari salah satu pasangan terbaik dunia. Permainan cepat dan penempatan bola yang akurat menjadi kunci kemenangan pasangan Merah Putih sejak awal pertandingan dimulai.
Pada gim pertama, Fajar/Fikri mampu mendominasi jalannya laga melalui serangan-serangan tajam yang sulit diantisipasi lawan. Strategi yang mereka terapkan berjalan sangat lancar tanpa kendala berarti.
Namun, situasi berubah pada gim kedua saat lawan mulai mengubah pola permainan mereka.
Fajar Alfian mengakui adanya penurunan konsentrasi yang membuat mereka kehilangan ritme permainan pada gim tersebut. Kondisi lapangan yang dipengaruhi arah angin menjadi faktor teknis yang cukup menyulitkan pergerakan bola di udara.
"Posisi kami menang angin jadi saya sedikit ragu-ragu untuk melakukan serangan karena takut keluar lapangan, akhirnya banyak melakukan kesalahan sendiri," ujar Fajar melalui keterangan resmi PBSI.
Kondisi menang angin dalam bulu tangkis berarti embusan angin searah dengan arah pukulan pemain. Hal ini sering membuat bola melaju lebih kencang dari biasanya, sehingga akurasi menjadi tantangan tersendiri bagi pemain yang berada di sisi tersebut.
Memasuki gim penentuan, Fajar/Fikri kembali menemukan sentuhan terbaik mereka dengan mengambil inisiatif serangan lebih dulu. Mereka tidak membiarkan pasangan China mengembangkan permainan seperti yang terjadi pada gim kedua sebelumnya.
Strategi untuk terus menekan sejak awal servis terbukti efektif memecah pertahanan Liang/Wang. Komunikasi yang intens di antara kedua pemain Indonesia ini terlihat menjadi pembeda dalam poin-poin kritis di akhir pertandingan.
"Di gim ketiga kami tidak mau kalah start, kami saling mengingatkan untuk terus menekan dan bisa berhasil mengendalikan mereka dari awal sampai akhir," kata Fajar menambahkan.
Kemenangan ini sekaligus menjadi ajang balas dendam yang manis bagi Fajar/Fikri atas kekalahan mereka di Asian Games 2026 lalu. Kala itu, mereka harus mengakui keunggulan Liang/Wang melalui pertarungan tiga gim yang berakhir dengan skor 17-21, 21-14, dan 9-21.
Fajar mengungkapkan terdapat perbedaan mencolok antara kondisi shuttlecock di Denmark Open dengan di Asian Games. Di Odense, laju shuttlecock terasa lebih ideal bagi tipe permainan mereka yang mengandalkan kecepatan.
"Di Asian Games kita tahu semua bahwa laju shuttlecock sangat pelan, sangat lambat jadi mereka sangat nyaman dengan pola permainan bertahan yang kemudian balik menyerang," tuturnya menjelaskan perbandingan teknis kedua turnamen tersebut.
Turnamen Denmark Open merupakan kompetisi tingkat Super 750 yang selalu menyajikan persaingan ketat dari para pemain elite dunia. Odense yang menjadi tuan rumah secara historis sering memberikan kenangan manis bagi tim bulu tangkis Indonesia di berbagai edisi sebelumnya.
Keberhasilan menembus partai puncak ini menjaga asa Indonesia untuk membawa pulang gelar juara dari tanah Skandinavia. Lawan yang akan dihadapi di final diprediksi akan memberikan tantangan yang sama beratnya.
Tim pelatih ganda putra diharapkan dapat memberikan analisis mendalam guna mempersiapkan taktik yang tepat untuk laga penentuan esok hari. Kesiapan fisik akan menjadi faktor penentu mengingat jadwal pertandingan yang sangat padat selama satu pekan terakhir.
Kini, publik bulu tangkis tanah air menantikan aksi Fajar/Fikri untuk berdiri di podium tertinggi. Konsistensi permainan yang mereka tunjukkan sejauh ini menjadi modal berharga untuk menghadapi tekanan di partai final nanti.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor