
Gugatan hukum terhadap Fox News mengungkap dugaan kelalaian sistematis di balik kematian jurnalis muda Ukraina, Oleksandra Kuvshynova. Kematian produser lokal yang akrab disapa Sasha ini memicu kritik tajam mengenai cara media internasional mengelola risiko keselamatan di zona perang.
Orang tua Sasha menuding jaringan televisi asal Amerika Serikat tersebut mengabaikan prosedur keamanan demi mengejar berita di wilayah berbahaya.
Peristiwa mematikan ini terjadi pada Maret 2022 saat tim liputan Fox News sedang berada di pinggiran kota Kyiv, ibu kota Ukraina. Kendaraan yang mereka tumpangi terkena serangan artileri Rusia yang mengakibatkan Sasha dan videografer veteran Pierre Zakrzewski tewas seketika. Koresponden utama mereka, Benjamin Hall, berhasil selamat meski harus kehilangan kaki kanan serta sebagian penglihatannya akibat luka ledakan yang sangat parah.
Kini, keluarga Kuvshynova bersama konsultan keamanan Shane Thomson mengajukan gugatan bernilai jutaan dolar atau puluhan miliar rupiah terhadap jaringan media tersebut. Mereka mengeklaim bahwa tim jurnalis mengabaikan peringatan untuk tetap berada di dalam batas kota yang lebih aman.
"Ini adalah bahaya yang sangat bisa dihindari karena mereka sudah diperingatkan secara spesifik mengenai lokasi yang tidak boleh didatangi," ujar Stephen Humphreys, pengacara keluarga Kuvshynova.
Hall dalam memoarnya yang berjudul Saved mengakui bahwa dirinya sering mengambil risiko besar demi kemajuan karier jurnalisme internasionalnya. Mantan produser Fox News, Phil Ittner, bahkan pernah melaporkan perilaku Hall di Suriah yang dianggap membahayakan rekan kerja dalam tim liputan. Namun, manajemen perusahaan dikabarkan tidak pernah menanggapi laporan tersebut hingga akhirnya insiden tragis di Ukraina terjadi pada tahun pertama invasi Rusia.
Shane Thomson selaku penasihat risiko menyatakan bahwa ia telah melarang keras tim untuk pergi ke arah Irpin karena wilayah itu sedang menjadi titik panas pertempuran. Irpin merupakan kota satelit di barat laut Kyiv yang saat itu sedang digempur habis-habisan oleh pasukan artileri Rusia.
Thomson menyebut Hall memutuskan untuk tetap berangkat meskipun penasihat keamanan sudah memberikan instruksi larangan secara lisan.
Dalam dokumen persidangan, terungkap bahwa jurnalis Fox News di lapangan sering kali bekerja dalam kondisi fisik yang sangat lelah dan di bawah tekanan tinggi. Biaya ganti rugi yang dituntut keluarga mencakup kerugian materiil serta dampak emosional mendalam akibat kehilangan anak tunggal mereka. Pihak Fox News sendiri menolak memberikan komentar detail terkait proses hukum yang sedang berlangsung di pengadilan negara bagian New York.
Pihak jaringan televisi sempat menawarkan paket uang duka yang mencakup biaya pemakaman dan santunan tunai kepada keluarga korban di Ukraina. Nilai tersebut diberikan sebagai bentuk simpati perusahaan meskipun Sasha berstatus sebagai pekerja lepas dan bukan karyawan tetap.
Ayah Sasha, Andriy Kuvshynov, mengaku menandatangani dokumen kesepakatan tersebut hanya dua minggu setelah kematian putrinya tanpa memahami konsekuensi hukum yang menyertainya.
Ia mengeklaim pihak Fox News tidak memberikan informasi yang jujur mengenai penyebab sebenarnya dari kecelakaan yang menimpa tim tersebut di lapangan. Andriy merasa dikhianati karena perusahaan besar itu seolah ingin menyelesaikan masalah dengan cepat melalui pembayaran sejumlah uang tunai. Baginya, keadilan atas nyawa putrinya jauh lebih berharga daripada nominal kompensasi apa pun yang ditawarkan oleh pihak korporasi.
Hakim Mary V. Rosado baru-baru ini memutuskan bahwa gugatan ini dapat dilanjutkan ke tahap pembuktian atau proses discovery. Keputusan hukum ini memungkinkan tim pengacara keluarga untuk memeriksa komunikasi internal serta rekaman mentah milik Fox News yang selama ini dirahasiakan.
Hakim menilai ada potensi ketidakadilan jika keluarga korban dilarang menyelidiki kebenaran di balik tragedi yang merenggut nyawa jurnalis lokal tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian utama bagi industri media global terkait standar perlindungan terhadap produser lokal atau sering disebut sebagai fixer di medan perang. Sering kali, pekerja lokal menanggung risiko yang sama besarnya dengan koresponden asing namun dengan jaminan asuransi yang jauh lebih rendah. Tragedi yang menimpa Sasha diharapkan menjadi momentum perbaikan prosedur keselamatan bagi seluruh awak media yang bertugas di wilayah konflik.
Hingga saat ini, pihak kepolisian nasional Ukraina juga masih terus melakukan investigasi praperadilan terhadap detail kematian Kuvshynova dan Zakrzewski. Mereka berupaya mengumpulkan bukti kuat mengenai kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Rusia dalam serangan mematikan terhadap warga sipil dan jurnalis tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor