Hajime Moriyasu Tolak Latih Timnas Malaysia dan Incar Karier di Eropa

Pelatih kepala tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, dipastikan tidak akan menerima tawaran untuk menukangi tim nasional Malaysia dalam waktu dekat. Rumor yang sempat beredar kencang menyebutkan bahwa pria berusia 58 tahun tersebut masuk dalam daftar kandidat utama untuk menggantikan posisi Tan Cheng Hoe di kursi kepelatihan Harimau Malaya.
Keputusan ini muncul di tengah masa depan Moriyasu yang akan segera memasuki babak baru. Kontraknya bersama Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) dijadwalkan berakhir pada 28 Februari 2027, tepat setelah perhelatan Piala Asia di Arab Saudi selesai.
Selama hampir satu dekade mengabdi, Moriyasu telah membangun reputasi besar melalui berbagai pencapaian taktikal di level internasional. Ia sukses membawa Jepang menumbangkan raksasa sepak bola seperti Jerman dan Spanyol pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Berbekal rekam jejak tersebut, tidak heran jika banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, menginginkan jasanya untuk mengangkat performa tim nasional mereka.
Namun, media Jepang Nikkan Gendai melaporkan bahwa Moriyasu memiliki target karier yang jauh lebih personal. Ia disebut tidak memiliki minat untuk melatih tim nasional negara lain setelah masa tugasnya bersama Jepang usai.
Secara kepribadian, ia justru lebih menyukai dinamika melatih sebuah klub sepak bola. Hal ini dikarenakan seorang pelatih klub memiliki akses harian untuk memantau perkembangan fisik serta teknis pemain di sesi latihan.
Target utama Moriyasu setelah meninggalkan kursi kepelatihan tim nasional adalah menjadi pelatih asal Jepang pertama yang memimpin sebuah klub di Eropa. Ambisi ini mencerminkan keinginannya untuk menguji kemampuan di ekosistem sepak bola yang paling kompetitif di dunia.
Sakanowa, media spesialis sepak bola di Jepang, turut mempertegas keraguan publik mengenai potensi kepindahan ke Asia Tenggara. Mereka menilai langkah tersebut tidak selaras dengan arah pengembangan karier yang disusun oleh sang pelatih.
Sementara itu, federasi sepak bola Malaysia (FAM) saat ini masih dipimpin oleh pelatih sementara, Tan Cheng Hoe. Ia mendapatkan apresiasi setelah membawa Malaysia meraih medali perunggu pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026.
Prestasi Cheng Hoe termasuk kemenangan krusial 1-0 atas Vietnam yang sekaligus mengakhiri catatan buruk selama 12 tahun tanpa kemenangan melawan rival regional tersebut. Situasi ini membuat pihak FAM cenderung bersikap hati-hati dalam mencari sosok permanen untuk posisi pelatih kepala.
Presiden FAM, Datuk Ab Ghani Hassan, menyatakan bahwa pihaknya memang mempelajari filosofi sepak bola dari negara maju seperti Jepang. Meskipun demikian, mereka menegaskan belum memulai pembicaraan formal dengan kandidat asing mana pun.
Dengan beredarnya kabar ini, spekulasi mengenai masa depan kursi pelatih Malaysia kemungkinan besar akan terus berlanjut. Bagi penggemar sepak bola, tantangan besar yang dihadapi FAM adalah mencari profil pelatih yang tepat untuk menjaga konsistensi performa Harimau Malaya di pentas internasional.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor










