Michael Bauer dari Konrad Adenauer Foundation memperingatkan bahwa keberhasilan pemilu bergantung pada kepatuhan para elite terhadap aturan main yang mengikat. Tantangan lain muncul dari keterlibatan Amerika Serikat yang berupaya menengahi melalui jalur elite di luar proses inklusif PBB.
Lembaga pemikir Chatham House memberikan catatan kritis bahwa negosiasi yang hanya membagi jabatan atau sumber daya antar-elite berisiko melanggengkan korupsi. Jika kesepakatan hanya berpusat pada pembagian kekuasaan, sistem patronase lama kemungkinan besar akan tetap bercokol meski pemilu telah diselenggarakan.
Selain masalah elite, ketimpangan demografis menjadi hambatan nyata. Populasi Libya terkonsentrasi di wilayah barat, yang membuat pihak timur khawatir akan kehilangan pengaruh politik signifikan jika pemungutan suara benar-benar dilakukan secara demokratis.
Faktor eksternal seperti Rusia dan Turki yang memiliki pengaruh kuat di Libya juga menambah kompleksitas situasi di lapangan. Kepentingan ekonomi dari cadangan minyak dan gas yang melimpah kerap menjadi penggerak utama bagi aktor-aktor yang enggan melepaskan kendali atas sumber daya negara tersebut.
Pada akhirnya, kebutuhan masyarakat Libya akan layanan publik yang memadai seperti listrik dan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama di tengah krisis panjang ini. Pemilu bukanlah obat ajaib, namun ia tetap menjadi instrumen krusial untuk membangun legitimasi pemerintahan di masa depan.