
Tren penurunan harga emas batangan 24 karat produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali berlanjut pada perdagangan hari ini.
Harga emas Antam tercatat mengalami koreksi sebesar Rp 10.000 per gram pada Selasa, 8 September 2026. Penurunan ini membuat harga emas kini berada di posisi Rp 2.627.000 per gram.
Kondisi ini memperpanjang tren negatif yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pelemahan harga komoditas ini memberikan tekanan bagi para investor yang berharap pada reli harga emas di pasar domestik.
Data resmi dari situs Logam Mulia menunjukkan harga pecahan emas terkecil ukuran 0,5 gram kini dijual sebesar Rp 1.363.500. Angka tersebut mencerminkan penyesuaian pasar terhadap fluktuasi harga emas global yang menjadi acuan utama industri logam mulia.
Beralih ke ukuran yang lebih besar, emas batangan 10 gram saat ini dipatok pada harga Rp 25.765.000. Sementara itu, untuk ukuran 1 kilogram, Antam memberikan banderol sebesar Rp 2.567.600.000.
Rentang harga emas dalam sepekan terakhir menunjukkan dinamika pasar yang cukup variatif. Harga emas sempat menyentuh titik tertinggi di level Rp 2.670.000 dan terendah di posisi Rp 2.624.000 per gram.
Jika melihat catatan selama satu bulan terakhir, fluktuasi harga emas di Indonesia bergerak cukup lebar. Harga sempat berada di angka Rp 2.768.000 per gram sebelum akhirnya melandai ke level saat ini.
Selain harga beli, nilai buyback atau transaksi jual kembali dari konsumen ke Antam juga ikut terkoreksi sebesar Rp 10.000. Saat ini, masyarakat yang ingin menjual kembali emas batangan mereka akan dihargai sebesar Rp 2.480.000 per gram.
Perlu dipahami bahwa setiap transaksi pembelian emas batangan di Indonesia tunduk pada aturan pajak. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34 Tahun 2017 mengenai pemungutan Pajak Penghasilan atau PPh 22.
Setiap pembeli emas batangan secara otomatis dikenakan tarif pajak sebesar 0,9 persen. Namun, beban pajak ini bisa ditekan menjadi 0,45 persen jika pembeli melampirkan Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP saat bertransaksi.
Bagi investor ritel, memahami selisih harga antara beli dan jual kembali sangatlah krusial. Jarak harga atau spread yang lebar seringkali menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan untuk menyimpan aset logam mulia dalam jangka panjang.
Pasar emas saat ini memang cenderung reaktif terhadap berbagai sentimen ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter bank sentral dunia menjadi variabel yang kerap mengubah peta harga emas di dalam negeri secara cepat.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor