Indonesia dan Kanada Perkuat Kerja Sama Strategis Mineral Kritis dan Nuklir

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Kamis, 17 September 2026, di sela-sela agenda Canada Investment Summit.
Diskusi kedua pemimpin negara berpusat pada peluang investasi strategis, khususnya di sektor mineral kritis dan pengembangan energi nuklir. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut konkret dari pembicaraan telepon antara Presiden Prabowo Subianto dengan PM Carney pada bulan Juni lalu.
Momen tersebut juga dimanfaatkan untuk mempercepat implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA). Proses ratifikasi kerja sama ICA-CEPA kini telah rampung dan siap untuk diberlakukan dalam waktu dekat.
Melalui perjanjian ini, kedua negara berfokus memperkuat kolaborasi pada sejumlah sektor unggulan. Ketahanan pangan, energi, serta rantai pasok mineral kritis menjadi pilar utama kemitraan strategis.
“Kami mengapresiasi penyelenggaraan Canada Investment Summit yang pertama ini sebagai bentuk komitmen kuat Pemerintah Kanada dalam menggalang investasi global. Indonesia siap menjadi mitra strategis Kanada dan terbuka untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor unggulan kedua negara,” ujar Airlangga Hartarto, sebagaimana dikutip.
Kemitraan yang terjalin antara Indonesia dan Kanada merefleksikan dinamika geopolitik ekonomi global. Kedua negara melihat potensi besar untuk saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan masing-masing.
Pada sektor pangan dan energi, kedua pihak mengeksplorasi potensi kemitraan guna menjamin ketahanan pasokan. Peluang investasi mencakup pasokan Potash, mineral penting untuk kebutuhan pupuk nasional, serta kolaborasi lebih lanjut di industri minyak dan gas bumi.
Selain itu, Indonesia dan Kanada, yang sama-sama dikenal sebagai produsen utama mineral kritis, berkomitmen memperkuat rantai pasok yang aman dan berkelanjutan. Mineral kritis memiliki peran fundamental dalam transisi energi global dan pengembangan teknologi baru, termasuk kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Pemerintah Indonesia juga secara aktif mendorong kolaborasi pengembangan teknologi Small Modular Reactor (SMR). Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi ketahanan energi jangka panjang nasional, serta upaya mendukung target emisi bersih Indonesia.
Pengembangan SMR menawarkan solusi energi nuklir yang lebih fleksibel dan skalabel. Teknologi ini berpotensi besar dalam mendukung diversifikasi sumber energi di Indonesia.
Melalui kerja sama ini, Indonesia dan Kanada berupaya menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Potensi investasi dan transfer teknologi di sektor-sektor strategis diperkirakan akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kedua negara.
Perjanjian ICA-CEPA diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi. Kemitraan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global dan transisi energi.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor









