
Sejumlah pengguna kacamata pintar Ray-Ban Meta melaporkan temuan mengejutkan terkait privasi perangkat mereka. Mereka mengklaim bahwa perangkat tersebut merekam percakapan sehari-hari secara otomatis tanpa adanya aktivasi atau perintah suara dari pemiliknya.
Laporan ini muncul setelah beberapa pemilik menyadari adanya transkrip percakapan acak yang tersimpan dalam riwayat Meta AI. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius mengenai perlindungan data pribadi dan batasan privasi dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan berbasis perangkat keras.
Ray-Ban Meta merupakan produk kolaborasi antara Meta, perusahaan induk Facebook, dengan produsen kacamata Luxottica. Perangkat ini dilengkapi dengan kamera dan mikrofon yang dirancang untuk membantu pengguna memotret, merekam video, hingga berkomunikasi dengan asisten virtual berbasis kecerdasan buatan.
Normalnya, perangkat ini hanya akan aktif atau mulai merekam setelah pengguna memberikan perintah suara spesifik, seperti mengucapkan "Hey Meta". Namun, temuan ini menunjukkan adanya celah sistem yang memungkinkan rekaman berjalan di luar kendali pengguna.
Beberapa pengguna mendapati bahwa topik pembicaraan mereka yang bersifat pribadi justru muncul dalam log aktivitas aplikasi pendukung kacamata tersebut. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana Meta mengelola data audio yang masuk ke dalam server mereka.
Meta sendiri menegaskan bahwa privasi adalah fondasi dari pengembangan produk mereka. Meski demikian, temuan ini kontras dengan janji keamanan perusahaan yang menyatakan bahwa pemrosesan suara hanya terjadi saat perangkat menerima kata kunci aktivasi yang tepat.
Secara teknis, perangkat kecerdasan buatan seperti ini sering kali mengandalkan deteksi kata kunci atau keyword spotting untuk mulai berfungsi. Jika sistem sensitif terhadap bunyi yang mirip dengan perintah aktivasi, potensi perekaman yang tidak disengaja menjadi lebih besar.
Bagi konsumen, insiden ini mengingatkan kembali pada risiko penggunaan perangkat pintar yang selalu terhubung. Perangkat yang dilengkapi mikrofon selalu berpotensi menjadi celah bagi perusahaan untuk mengumpulkan data, baik disengaja maupun karena kesalahan sistem atau bug pada algoritma pengenalan suara.
Hingga saat ini, pihak Meta sedang melakukan investigasi mendalam terhadap laporan tersebut. Mereka berupaya memastikan apakah masalah ini merupakan kesalahan pada perangkat lunak atau kendala pada sistem pemrosesan bahasa alami yang digunakan dalam model kecerdasan buatan mereka.
Perlu diketahui, kacamata pintar dengan kemampuan rekam kini semakin populer sebagai alat bantu produktivitas. Pasar perangkat *wearable* (gawai yang bisa dikenakan) ini diproyeksikan akan terus tumbuh seiring dengan integrasi kecerdasan buatan yang lebih dalam ke kehidupan sehari-hari masyarakat global.
Pengguna diimbau untuk meninjau kembali pengaturan privasi pada aplikasi pendamping perangkat mereka secara berkala. Memeriksa riwayat data yang tersimpan bisa menjadi langkah awal untuk mengetahui apakah perangkat telah mengumpulkan data di luar pengetahuan pemiliknya.
Kepercayaan konsumen menjadi taruhan utama bagi perusahaan teknologi yang mengembangkan produk berbasis pengumpulan data audio. Jika insiden ini terbukti meluas, posisi Meta bisa terancam oleh regulasi privasi yang semakin ketat di berbagai belahan dunia, termasuk potensi investigasi dari otoritas perlindungan data.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor