Kebakaran Hutan Gunung Lawu dan Sumbing, 152 Pendaki Berhasil Dievakuasi

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengintensifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Lawu serta Gunung Sumbing.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi titik api yang mengharuskan otoritas terkait bertindak cepat. Sebanyak 152 pendaki yang berada di jalur pendakian Gunung Sumbing telah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Proses evakuasi tersebut melibatkan tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, relawan, dan aparat keamanan setempat. Mereka menyisir seluruh pos pendakian untuk memastikan tidak ada lagi warga yang terjebak di area terdampak kabut asap tebal.
Gunung Sumbing merupakan salah satu destinasi pendakian populer di Jawa Tengah yang terletak di antara wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang, dan Wonosobo. Memiliki ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut, gunung ini sering menjadi sasaran pendaki dari berbagai daerah terutama saat akhir pekan.
Di sisi lain, kondisi di Gunung Lawu juga mendapatkan perhatian serius dari otoritas terkait. Karhutla di kawasan tersebut diduga dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem yang membuat vegetasi hutan menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
Pemerintah provinsi kini menerapkan status siaga darurat di kedua lokasi tersebut. Koordinasi lintas sektoral menjadi kunci utama agar api tidak merambat ke area yang lebih luas atau menjangkau pemukiman warga di kaki gunung.
Para pendaki diimbau untuk menunda aktivitas pendakian di wilayah Jawa Tengah selama musim kemarau berlangsung. Keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan jiwa serta mempermudah akses tim pemadam kebakaran dalam menjangkau titik api yang sulit dijangkau kendaraan.
Bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman melalui metode pemadaman darat maupun dukungan logistik. Sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam situasi kritis seperti saat ini.
Data dari lembaga pemantau kehutanan menunjukkan bahwa curah hujan yang rendah menjadi faktor utama pemicu kerentanan lahan di Jawa Tengah. Pihak berwenang secara rutin melakukan patroli di kawasan hutan lindung untuk mencegah perbuatan manusia yang berpotensi memicu api.
Dampak ekonomi akibat kebakaran ini cukup signifikan, terutama bagi masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari sektor wisata pendakian. Pemulihan ekosistem setelah api padam akan membutuhkan waktu panjang serta perhatian khusus dari instansi terkait agar kelestarian alam tetap terjaga.
Hingga saat ini, tim lapangan masih terus berjaga di titik-titik vital. Mereka memantau arah angin agar pola penyebaran api dapat segera dipetakan sebelum melakukan operasi pemadaman lanjutan yang lebih intensif pada esok hari.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor













