Ketua Komite Keuangan AS Desak Kepastian Regulasi Aset Kripto di Kongres

Ketua Komite Layanan Keuangan DPR Amerika Serikat, French Hill, menegaskan bahwa langkah regulasi aset kripto yang diambil oleh otoritas keuangan saat ini belum cukup memadai. Ia menilai tindakan dari regulator pasar belum mampu memberikan stabilitas jangka panjang bagi industri aset digital di negara tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business pada Rabu waktu setempat, Hill menyatakan kekecewaannya terhadap upaya yang dilakukan oleh Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Kedua lembaga ini merupakan otoritas pengawas pasar modal dan pasar komoditas berjangka di Amerika Serikat.
Langkah regulasi yang diambil oleh kedua badan tersebut muncul setelah kegagalan Senat Amerika Serikat dalam meloloskan Undang-Undang Digital Asset Market Clarity, atau dikenal sebagai CLARITY Act, bulan lalu. Undang-undang ini bertujuan untuk menciptakan kerangka kerja hukum yang permanen bagi ekosistem aset digital agar dapat beroperasi dengan kepastian hukum yang lebih kuat.
Hill memandang upaya aturan administratif yang saat ini ditempuh oleh regulator tetap tidak bisa menggantikan fungsi undang-undang formal. Baginya, perubahan hukum permanen merupakan instrumen utama untuk memastikan Amerika Serikat tetap unggul dalam pengembangan teknologi blockchain dan aset digital di tingkat global.
Legislator asal Arkansas ini tetap optimistis bahwa Kongres masih memiliki kesempatan untuk mengesahkan CLARITY Act dalam masa sidang lame duck, yakni periode singkat setelah pemilihan umum namun sebelum anggota parlemen baru resmi dilantik pada Januari 2027.
Konteks politik di Amerika Serikat sering kali menyertakan istilah masa sidang lame duck, yaitu periode di mana legislator yang akan segera berakhir masa jabatannya tetap melakukan tugas legislasi sebelum masa bakti mereka habis. Durasi ini cukup sempit, yakni hanya sekitar 22 hari kerja efektif di Senat.
Tantangan tambahan muncul dari posisi pimpinan di kedua lembaga pengawas tersebut yang saat ini mengalami kekosongan. Terdapat tujuh posisi jabatan tingkat pimpinan di SEC dan CFTC yang belum terisi setelah serangkaian pengunduran diri, termasuk mundurnya Komisioner Hester Peirce dari SEC pekan lalu.
Kepemimpinan SEC kini hanya menyisakan Ketua Paul Atkins dan Mark Uyeda. Sementara itu, di lembaga CFTC, Michael Selig bertugas sebagai ketua sekaligus satu-satunya komisioner aktif yang menjalankan operasional organisasi tersebut.
Hill berpendapat bahwa hasil dari pemilihan umum sela mendatang akan sangat menentukan dinamika dukungan terhadap RUU tersebut. Para anggota parlemen diprediksi akan lebih berhati-hati dalam memberikan suara, terutama karena mereka telah mengetahui apakah mereka akan kembali duduk di kursi pemerintahan atau harus meninggalkan jabatannya pada awal tahun depan.
Hingga kini, arah kebijakan kripto di Amerika Serikat masih menjadi sorotan utama bagi investor global. Keputusan besar di Washington diharapkan dapat menjadi acuan bagi pasar untuk bergerak lebih stabil di masa mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor










