
Ribuan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di berbagai wilayah Prancis kembali turun ke jalan pada Kamis (28/11) untuk menyuarakan tuntutan penambahan anggaran pendidikan.
Aksi ini berlangsung hanya dua hari setelah demonstrasi besar-besaran melumpuhkan sejumlah pusat kota. Para pengunjuk rasa menilai alokasi dana pemerintah saat ini tidak mencukupi kebutuhan operasional dan kesejahteraan siswa.
Kementerian Pendidikan Prancis sempat merespons desakan tersebut dengan menawarkan serangkaian langkah konsiliasi. Langkah ini mencakup peninjauan kembali struktur anggaran untuk tahun ajaran mendatang, meskipun kelompok mahasiswa menilai tawaran itu masih jauh dari harapan.
Perlu diketahui, sistem pendidikan tinggi di Prancis sangat bergantung pada subsidi pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Nasional. Kelompok serikat mahasiswa sering kali menjadi penggerak utama dalam mendesak perubahan kebijakan publik di negara tersebut.
Suasana di depan gedung parlemen tampak memanas sejak pagi hari. Barisan aparat kepolisian telah disiagakan untuk mengantisipasi potensi kerusuhan, sementara para demonstran meneriakkan slogan perlawanan terhadap pemotongan anggaran yang dianggap merugikan masa depan pendidikan nasional.
Salah satu perwakilan mahasiswa menyatakan bahwa mereka tidak akan berhenti sampai pemerintah memberikan jaminan tertulis mengenai peningkatan dana operasional. Fokus utama tuntutan mereka terletak pada pembenahan fasilitas universitas yang dianggap sudah usang dan kurang memadai.
Secara ekonomi, pemerintah Prancis saat ini tengah menghadapi tekanan fiskal yang berat dengan defisit anggaran mencapai USD 150 miliar (sekitar Rp2.370 triliun) pada tahun 2024. Beban utang yang membengkak memaksa kementerian untuk melakukan pengetatan di berbagai sektor publik, termasuk bidang pendidikan.
Situasi ini memicu dilema bagi Presiden Emmanuel Macron yang harus menjaga stabilitas sosial di tengah kebijakan reformasi ekonomi. Di satu sisi, pemerintah berupaya mengurangi pengeluaran negara, namun di sisi lain, sektor pendidikan terus menuntut investasi lebih besar guna menjaga daya saing lulusan.
Beberapa sekolah di Paris terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar akibat keterlibatan siswa dalam aksi massa. Pengelola universitas pun mengeluarkan imbauan agar mahasiswa tetap menjaga ketertiban selama menyampaikan aspirasi di ruang publik.
Kehadiran generasi muda dalam aksi ini menunjukkan tingkat partisipasi politik yang cukup tinggi di kalangan pelajar Prancis. Mereka sadar bahwa keputusan anggaran hari ini akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan yang mereka terima di masa depan.
Hingga Kamis petang, belum ada kesepakatan konkret yang dicapai antara pihak kementerian dan perwakilan pengunjuk rasa. Negosiasi lanjutan dijadwalkan akan berlangsung pada awal pekan depan guna mencari titik temu atas kebuntuan anggaran yang terjadi saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor