Kisah-Kisah Tragis di Gaza: Pasien Meninggal Dunia Menanti Evakuasi Medis

GAZA — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk, terutama bagi ribuan pasien yang membutuhkan evakuasi medis mendesak ke luar wilayah. Banyak di antara mereka, seperti Amina Abu al-Kas, seorang ibu dari Gaza, harus meregang nyawa setelah menanti persetujuan evakuasi yang tak kunjung tiba, meninggalkan kisah duka mendalam bagi keluarga.
Saber Abu al-Kas, putranya, mengenang betapa ibunya sempat merasakan secercah harapan saat dewan medis Gaza menyetujui keberangkatannya untuk menjalani perawatan. "Itu seolah mengembalikan semangat hidupnya. Ia tahu tak ada pengobatan yang memadai di Gaza, jadi ia sangat bahagia dan bersemangat," tutur Saber kepada BBC.
Amina menderita infeksi nekrotik agresif yang telah menyebar ke tengkoraknya. Dokter di Gaza menyatakan mereka tidak memiliki obat-obatan atau terapi yang diperlukan untuk menangani kondisi tersebut.
"Ibu saya tidak bisa tidur siang atau malam; ia terus terjaga, menjerit menahan sakit," kenang Saber.
Ia menambahkan, obat pereda nyeri justru menyebabkan tukak lambung dan peradangan, sehingga dokter melarangnya mengonsumsi obat tersebut.
Setelah mendapatkan rujukan medis, keluarga Saber menanti kabar bahwa Amina telah melewati pemeriksaan keamanan dan diterima oleh negara asing untuk perawatan, dua prasyarat krusial untuk bisa meninggalkan Gaza.
"Kami tahu bahwa kapan saja Tuhan bisa mengambilnya. Dan kami juga tahu bahwa kapan saja keajaiban bisa terjadi, bahwa kami mungkin mendapat telepon yang mengatakan, 'Siapkan tas Anda dan bersiaplah untuk melewati perbatasan,'" ungkap Saber kepada BBC.
"Kami menunggu lama, tetapi tidak ada respons. Ibu saya meninggal pada 29 Mei, dan dua minggu setelah kematiannya, saya mendapat telepon dari rumah sakit yang memberitahu bahwa dokumennya sudah siap," kisahnya pilu.
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan, Amina adalah salah satu dari 300 warga Palestina yang meninggal dunia saat menanti evakuasi medis sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas dimulai Oktober lalu. Data ini juga digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang turut membantu transfer pasien melalui perbatasan Gaza dengan Israel dan Mesir yang dikontrol Israel.
Ribuan lainnya, yang menurut Kementerian Kesehatan saat ini mencapai 15.000 orang, masih menunggu perawatan di luar negeri. Beberapa di antaranya akibat cedera terkait perang, sementara yang lain menderita kondisi seperti kanker.
Daftar pasien yang akan dievakuasi terus berfluktuasi seiring perubahan kondisi pasien dan keputusan medis, sehingga tidak semua kematian mungkin tercatat.
Sejak gencatan senjata dimulai lebih dari delapan bulan lalu, WHO mencatat 1.977 orang telah meninggalkan Gaza untuk perawatan medis. Jika proses ini tidak dipercepat, evakuasi semua pasien yang membutuhkan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
"Kami berbicara tentang sesuatu yang terasa seperti keajaiban," kata Saber. "Jika nama pasien terpilih dan mereka diberikan izin untuk melakukan perjalanan untuk perawatan di luar negeri, itu hampir merupakan keajaiban."
Setelah disetujui oleh dewan rujukan medis Gaza, pasien harus melewati pemeriksaan keamanan dari Israel, negara tujuan, dan negara transit mana pun. Selain itu, mereka juga harus diterima oleh negara tujuan untuk perawatan, yang seringkali bukan proses sederhana.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor


















