Kisah-Kisah Tragis di Gaza: Pasien Meninggal Dunia Menanti Evakuasi Medis

GAZA — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk, terutama bagi ribuan pasien yang membutuhkan evakuasi medis mendesak ke luar wilayah. Banyak di antara mereka, seperti Amina Abu al-Kas, seorang ibu dari Gaza, harus meregang nyawa setelah menanti persetujuan evakuasi yang tak kunjung tiba, meninggalkan kisah duka mendalam bagi keluarga.
Saber Abu al-Kas, putranya, mengenang betapa ibunya sempat merasakan secercah harapan saat dewan medis Gaza menyetujui keberangkatannya untuk menjalani perawatan. "Itu seolah mengembalikan semangat hidupnya. Ia tahu tak ada pengobatan yang memadai di Gaza, jadi ia sangat bahagia dan bersemangat," tutur Saber kepada BBC.
Amina menderita infeksi nekrotik agresif yang telah menyebar ke tengkoraknya. Dokter di Gaza menyatakan mereka tidak memiliki obat-obatan atau terapi yang diperlukan untuk menangani kondisi tersebut.
"Ibu saya tidak bisa tidur siang atau malam; ia terus terjaga, menjerit menahan sakit," kenang Saber.
Ia menambahkan, obat pereda nyeri justru menyebabkan tukak lambung dan peradangan, sehingga dokter melarangnya mengonsumsi obat tersebut.
Setelah mendapatkan rujukan medis, keluarga Saber menanti kabar bahwa Amina telah melewati pemeriksaan keamanan dan diterima oleh negara asing untuk perawatan, dua prasyarat krusial untuk bisa meninggalkan Gaza.
"Kami tahu bahwa kapan saja Tuhan bisa mengambilnya. Dan kami juga tahu bahwa kapan saja keajaiban bisa terjadi, bahwa kami mungkin mendapat telepon yang mengatakan, 'Siapkan tas Anda dan bersiaplah untuk melewati perbatasan,'" ungkap Saber kepada BBC.










