:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379833/original/081951200_1792648229-cunha.jpg)
Manchester United saat ini berada dalam pusaran krisis internal setelah kekalahan memalukan di kompetisi Eropa. Kondisi ruang ganti tim berjuluk Setan Merah tersebut dikabarkan retak menyusul perselisihan antara penyerang Matheus Cunha dan pelatih Michael Carrick.
Insiden ini meledak setelah Manchester United menyerah 1-4 dari klub Italia, Como, dalam laga lanjutan Liga Champions. Hasil minor di Stadion Giuseppe Sinigaglia tersebut memicu ketegangan hebat yang melibatkan pemain dan staf pelatih di area lorong stadion.
Jurnalis The Sun, Samuel Luckhurst, melaporkan bahwa adu mulut antara Cunha dan Carrick berlangsung cukup intens serta penuh emosi. Perdebatan tersebut terjadi jauh dari jangkauan kamera televisi, namun suasananya digambarkan sangat panas oleh saksi mata. Cunha merasa tidak puas setelah dirinya ditarik keluar lapangan saat jeda pertandingan berlangsung.
Pemain asal Brasil itu digantikan oleh Amad Diallo setelah dianggap gagal memberikan kontribusi signifikan pada babak pertama.
Keputusan Carrick melakukan pergantian ganda, termasuk memasukkan Carlos Baleba, tetap tidak mampu mengubah alur permainan tim tamu. Manchester United kini mencatatkan rekor buruk dengan melewati tujuh pertandingan beruntun tanpa mencicipi satu pun kemenangan.
Kekalahan dari Como terasa lebih menyakitkan bagi publik sepak bola tanah air karena klub tersebut dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia melalui Grup Djarum. Como merupakan klub bersejarah di Italia yang baru saja bangkit dan kini bersaing di kasta tertinggi dengan dukungan manajemen profesional. Keberhasilan Como menunjukkan bahwa organisasi tim yang solid dapat meruntuhkan reputasi besar klub yang sedang didera masalah internal.
Kapten tim, Bruno Fernandes, tidak ragu menyuarakan keresahannya terkait pendekatan taktis yang diterapkan oleh jajaran pelatih.
Fernandes mempertanyakan kebijakan staf teknis yang memilih untuk tidak menerapkan pola tekanan satu lawan satu atau pressing agresif. Menurutnya, membiarkan ruang terbuka di lini pertahanan memberikan celah bagi lawan untuk membangun kepercayaan diri. "Keputusan staf pelatih adalah tidak melakukan tekanan individu dan terkadang membiarkan ruang di belakang," ujar pemain tim nasional Portugal tersebut.
Ia menambahkan bahwa timnya gagal memberikan tekanan yang cukup kepada pemain lawan yang sedang menguasai bola. Hal ini menyebabkan aliran serangan lawan menjadi sangat lancar dan sulit untuk dibendung oleh barisan pemain bertahan.
Komentar pedas Fernandes ini seolah membuka tabir adanya ketidakharmonisan antara visi pemain dan instruksi pelatih di lapangan. Situasi ini diperparah dengan kebobolan gol cepat yang langsung meruntuhkan mentalitas tanding para pemain Setan Merah sejak menit awal.
Michael Carrick segera memberikan tanggapan keras mengenai kritik yang dilayangkan oleh kapten timnya tersebut dalam konferensi pers.
Carrick menegaskan bahwa strategi apa pun yang disusun tidak akan berjalan efektif tanpa kerja keras dari seluruh elemen pemain. Ia menyoroti kurangnya mobilitas pemain saat transisi bertahan maupun menyerang sebagai penyebab utama kekalahan telak tersebut.
Pelatih berusia 43 tahun itu juga menjelaskan bahwa timnya sempat mencoba menerapkan pola pressing di babak kedua. Namun, MU justru kembali kebobolan ketika mereka mencoba bermain lebih terbuka dan agresif terhadap lawan. Carrick menyatakan bahwa cara bermain timnya pada malam itu sama sekali tidak bisa diterima oleh standar klub sebesar Manchester United.
"Jika kalian tidak berlari dan tidak bergerak maju, kalian tidak akan pernah memenangkan pertandingan," tegas mantan gelandang legendaris itu.
Gejolak di internal tim ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi dalam beberapa pekan terakhir yang penuh tekanan. Sebelumnya, bek Lisandro Martinez juga sempat melontarkan kritik tajam kepada manajemen klub terkait kebijakan bursa transfer.
Martinez merasa jajaran petinggi klub tidak bergerak cukup cepat untuk mendatangkan pemain baru guna memperkuat skuad yang compang-camping. Kritikan tersebut muncul setelah tim menderita kekalahan dari Atletico Madrid, yang semakin memperkeruh suasana di Carrington, pusat latihan klub.
Rentetan hasil negatif dan perselisihan antarindividu ini menempatkan posisi Michael Carrick dalam tekanan yang sangat besar. Manajemen klub kini harus segera mengambil tindakan tegas sebelum krisis ini semakin berlarut dan merusak target tim di akhir musim.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor