
Tarif sewa mobil listrik di Jakarta masih dibanderol lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin meski harga beli beberapa modelnya makin terjangkau. Ketimpangan harga sewa mobil listrik ini terjadi karena pelaku usaha rental harus mempertimbangkan risiko depresiasi armada yang cukup tinggi di pasar mobil bekas.
Penetapan harga sewa tersebut dihitung secara matang berdasarkan ketahanan baterai, garansi komponen utama, serta estimasi nilai jual kembali kendaraan.
Head Marketing Jennete Rent, Natalia, mengungkapkan bahwa banyak calon konsumen merasa bingung ketika melihat simulasi biaya sewa bulanan maupun harian. Mereka umumnya membandingkan harga patokan unit baru di diler yang terkesan murah dengan besaran tarif sewa yang ditawarkan pengelola. Padahal, pengelola jasa transportasi memiliki kalkulasi bisnis jangka panjang yang melibatkan risiko depresiasi aset secara terukur.
"Sebagian pelanggan memang kadang suka bingung," kata Natalia saat ditemui di kantor Jennete Rent, Jakarta Pusat.
Ia menjelaskan bahwa konsumen kerap menanyakan alasan di balik harga sewa kendaraan listrik yang relatif tinggi dibandingkan mobil konvensional. Padahal, pasar kendaraan listrik bekas di Indonesia belum memiliki kestabilan harga yang kokoh jika dibandingkan dengan ekosistem mobil bensin yang telah terbentuk puluhan tahun.
Risiko penyusutan nilai aset kendaraan berbasis baterai menjadi faktor paling dominan dalam penentuan tarif sewa di ibu kota. Komponen baterai yang menyerap porsi biaya terbesar dari total harga kendaraan memiliki masa pakai dan penurunan kapasitas seiring lamanya pemakaian. Oleh sebab itu, pengelola usaha sewa wajib mencadangkan dana risiko antisipasi penggantian komponen vital tersebut.
Kendati harus mengeluarkan biaya sewa lebih mahal, penyewa kendaraan listrik disuguhkan efisiensi pengeluaran harian yang cukup signifikan. Pengguna tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk pengisian energi serta mendapat kebebasan melintasi jalur ganjil-genap di Jakarta.
"Keunggulan mobil listrik ada pada biaya operasional untuk energi yang jauh lebih murah serta bebas dari aturan ganjil-genap di Jakarta," ujar Natalia.
Permintaan sewa kendaraan ramah lingkungan ini terus menunjukkan tren positif untuk durasi penyewaan jangka pendek hingga menengah. Konsumen dari kalangan individu maupun korporasi memanfaatkan skema sewa untuk menghindari beban depresiasi langsung serta kewajiban perawatan berkala. Pengguna harian biasanya memanfaatkan unit saat momen libur panjang Lebaran atau ketika kendaraan pribadi sedang berada di bengkel resmi.
Melalui sistem sewa, seluruh urusan administratif kendaraan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan penyedia jasa. Pelanggan bebas dari kerumitan pengurusan pajak tahunan, perpanjangan masa berlaku STNK, hingga servis rutin di bengkel resmi diler.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, tarif sewa harian mobil listrik beserta pengemudi di wilayah Jakarta berada pada rentang Rp750.000 hingga Rp2.500.000 per hari. Penyewaan Wuling Air EV dipatok mulai Rp750.000 per hari, sedangkan BYD Atto 1 ditawarkan mulai Rp950.000 per hari. Adapun unit SUV listrik Jaecoo J5 EV disewakan dengan tarif mulai Rp1.250.000 per hari.
Untuk segmen premium seperti BYD Sealion 7, penyedia jasa menetapkan tarif sewa mulai dari Rp2.500.000 per hari. Variasi harga tersebut berbanding lurus dengan kapasitas baterai, jarak tempuh kendaraan, serta kemewahan fasilitas interior yang disediakan.
Sementara itu, skema kerja sama dengan segmen korporasi umumnya menggunakan jangka waktu yang lebih panjang. Natalia menyebutkan bahwa kesepakatan kontrak sewa perusahaan berkisar antara tiga hingga lima tahun melalui prosedur penawaran resmi.
Fleksibilitas skema penyewaan ini diprediksi terus menjadi opsi favorit bagi masyarakat yang ingin merasakan sensasi berkendara mobil listrik tanpa beban kepemilikan aset jangka panjang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor