
Tim nasional sepak bola wanita Inggris kini menghadapi sorotan tajam terkait sistem kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027 yang dinilai tidak efisien. Meskipun menunjukkan dominasi luar biasa di lapangan sepanjang tahun ini, skuad asuhan Sarina Wiegman justru harus menempuh jalur babak play-off yang melelahkan hanya untuk mengamankan tiket turnamen.
Kemenangan telak Inggris atas Yunani dengan agregat 8-1 baru-baru ini menjadi bukti nyata ketimpangan kualitas yang tercipta akibat format kompetisi saat ini. Yunani, yang berada 55 peringkat di bawah Inggris dalam ranking dunia, hampir tidak memiliki peluang berarti dalam dua pertemuan tersebut.
Hasil serupa juga dialami tim-tim besar Eropa lainnya seperti Belanda, Norwegia, dan Swedia yang harus berhadapan dengan lawan berperingkat jauh di bawah mereka. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai apakah sistem yang diterapkan oleh UEFA masih relevan dengan perkembangan pesat sepak bola wanita di Benua Biru saat ini.
Masalah utama terletak pada kebijakan UEFA yang hanya memberikan satu tiket kualifikasi otomatis bagi tim pemenang dari fase grup liga. Inggris, yang tergabung dalam grup neraka bersama juara dunia Spanyol, terpaksa harus menjalani babak play-off meski telah meraih 15 poin dari delapan laga kualifikasi.
Kekecewaan sempat diutarakan oleh Sarina Wiegman mengenai format yang dianggap tidak proporsional bagi tim elite. Manajer Lionesses tersebut menyatakan bahwa fokusnya saat ini adalah menghadapi Ukraina di babak play-off berikutnya, sambil menyerahkan evaluasi sistem kualifikasi sepenuhnya kepada otoritas tertinggi sepak bola Eropa.
Situasi ini terasa cukup absurd mengingat Inggris harus kembali berhadapan dengan Ukraina, tim yang sudah mereka kalahkan dua kali dengan skor agregat telak 9-1 di babak sebelumnya. Pertandingan play-off antara Inggris dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 1 Desember untuk leg pertama, dan 5 Desember di Stadion Wembley untuk laga penentuan.
Sementara tim elite Eropa terjebak dalam kualifikasi melawan tim lemah, negara-negara pesaing dari wilayah lain justru memiliki jadwal yang jauh lebih kompetitif. Sebagai contoh, tim besar seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, dan Brasil lebih memilih melakoni laga uji coba persahabatan melawan sesama tim papan atas dunia untuk mematangkan strategi.
FIFA sendiri telah memutuskan untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia Wanita dari 32 menjadi 48 tim mulai edisi 2031. Meski ekspansi ini diharapkan dapat meningkatkan inklusivitas, banyak pihak berharap UEFA segera melakukan reformasi mendalam terhadap format kualifikasi agar tidak lagi merugikan tim-tim berkualitas yang secara statistik seharusnya layak lolos tanpa melalui jalur play-off yang tidak seimbang.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor