Lima Dekade Berlalu, Warisan Mao Zedong Masih Membayangi China Modern

China pada Rabu menandai peringatan setengah abad wafatnya Mao Zedong, tokoh pendiri Republik Rakyat China yang membawa pengaruh besar bagi perjalanan politik dunia.
Mao dikenal sebagai pemimpin yang menyatukan seperempat populasi dunia di bawah kendali Partai Komunis. Hingga hari ini, sosok dan ideologinya tetap menjadi subjek perdebatan sengit di dalam maupun luar negeri.
Revolusi Kebudayaan yang ia canangkan pada tahun 1966 meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat setempat. Periode ini melibatkan kampanye ideologis masif yang menyebabkan kekacauan sosial luas, penutupan sekolah, serta penganiayaan terhadap jutaan orang yang dianggap sebagai musuh revolusi.
Banyak ahli sejarah menilai kebijakan tersebut sebagai upaya untuk mengukuhkan kekuasaan absolut Mao setelah kegagalan program Lompatan Jauh ke Depan yang memicu kelaparan hebat. Dampak dari gerakan ini menghancurkan warisan budaya tradisional dan mengubah struktur sosial China secara permanen.
Di Beijing, atmosfer politik saat ini menunjukkan sikap yang cukup berhati-hati dalam meninjau kembali sejarah tersebut. Pemerintahan China cenderung menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap pendiri negara dan pengakuan atas kesalahan fatal yang pernah terjadi di masa lalu.
Presiden Xi Jinping kerap merujuk pada Mao sebagai simbol stabilitas dan kekuatan partai. Namun, diskusi terbuka mengenai sisi gelap Revolusi Kebudayaan di ruang publik tetap menjadi topik yang sangat sensitif dan sering kali dibatasi.
Pewarisan nilai-nilai Mao juga terlihat dari bagaimana narasi nasionalisme dikelola oleh pemerintah saat ini. Partai Komunis China mengklaim bahwa pemikiran Mao tetap relevan sebagai fondasi untuk membawa China mencapai status adidaya global yang diidamkan.
Masyarakat dunia memandang China sebagai kekuatan ekonomi yang jauh berbeda dibandingkan masa kepemimpinan Mao yang tertutup. Dengan Produk Domestik Bruto yang mencapai triliunan USD, China telah bertransformasi menjadi pusat industri global yang sangat kompetitif.
Kendati demikian, tantangan internal tetap membayangi kemajuan tersebut. Diskusi mengenai batasan kekuasaan dan hak asasi manusia sering kali menyeret kembali perbincangan tentang bagaimana kebijakan otoriter masa lalu memengaruhi pengambilan keputusan modern.
Genap lima puluh tahun setelah kepergiannya, Mao Zedong bukan hanya sekadar figur sejarah bagi warga China. Ia tetap hidup dalam setiap kebijakan partai yang menekankan supremasi ideologis di atas segala bentuk aspirasi demokratis lainnya.
Dunia akan terus mengamati bagaimana China menyeimbangkan memori sejarah dengan ambisi masa depan. Peringatan ini menegaskan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati di negara dengan sejarah panjang yang penuh gejolak ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











