Marketplace NFT Blur Hentikan Layanan Web dan Pinjaman Blend Bulan Depan

Platform perdagangan aset digital NFT, Blur, resmi mengumumkan rencana penutupan situs web mereka pada 12 November mendatang. Keputusan ini menandai perubahan signifikan bagi ekosistem perdagangan NFT berbasis Ethereum yang sempat mendominasi pasar.
Perlu dipahami, penutupan ini hanya berlaku untuk antarmuka pengguna atau frontend di situs blur.io. Protokol pasar Blur akan tetap berjalan secara on-chain dan pemegang token BLUR tetap memiliki kendali penuh atas mekanisme biaya platform.
Fitur pinjaman NFT peer-to-peer bernama Blend juga akan menghentikan proses pencocokan pinjaman baru pada tanggal yang sama. Bagi pengguna yang masih memiliki pinjaman aktif, Blur memberikan tenggat waktu hingga pertengahan November untuk melunasi kewajiban tersebut.
Jika peminjam tidak melunasi utang, mereka terpaksa membiarkan pinjaman tersebut mengalami gagal bayar. Sebagai bentuk mitigasi, pihak pengembang berjanji menyediakan alat khusus untuk membantu pengguna menarik aset mereka dari sistem Blend pasca penutupan.
Blur pertama kali meluncur ke publik pada 2022 melalui strategi airdrop token kepada para pedagang aktif. Langkah agresif ini sempat membuat Blur menyalip OpenSea dalam hal volume perdagangan bulanan di pasar NFT global.
Namun, kebijakan insentif Blur memicu perdebatan di kalangan pelaku industri. Banyak pengamat mempertanyakan apakah strategi tersebut berkontribusi pada penurunan nilai aset NFT secara drastis di pasar sekunder.
Kondisi pasar NFT saat ini memang mengalami penyusutan yang cukup tajam. Data dari Statista memproyeksikan pendapatan pasar NFT global pada 2026 hanya mencapai USD 318,3 juta atau sekitar Rp4,9 triliun, angka yang relatif stagnan dibandingkan tahun lalu.
Volume penjualan NFT bulanan pun merosot ke angka USD 167,2 juta atau setara Rp2,6 triliun pada September lalu. Sebagai perbandingan, pada Desember 2023 volume tersebut masih berada di kisaran USD 1,78 miliar atau sekitar Rp27,8 triliun.
Penurunan drastis ini menunjukkan bahwa pasar tidak lagi mencatatkan nilai transaksi miliaran dolar seperti saat masa puncak popularitasnya pada 2021 dan 2022. Laporan DappRadar menyebutkan peningkatan jumlah penjualan saat ini lebih banyak didorong oleh NFT berharga murah, bukan peningkatan aktivitas perdagangan bernilai tinggi.
Keputusan penutupan Blur menyusul langkah Blast, jaringan Ethereum layer-2 yang juga dikembangkan oleh tim di balik Blur. Awal bulan ini, Blast menyatakan akan berhenti beroperasi karena biaya operasional yang jauh lebih besar daripada pendapatan yang dihasilkan.
Blast sempat menarik minat pasar dengan total simpanan lebih dari USD 2,3 miliar atau sekitar Rp35,9 triliun menjelang peluncuran mainnet pada Februari 2024. Kini, pengguna memiliki batas waktu hingga 26 Oktober untuk menarik dana mereka dari antarmuka Blast sebelum akses ditutup secara permanen.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









