:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379442/original/072640700_1792623284-mu.jpg)
Manchester United kembali menelan kekalahan pahit di Liga Champions setelah dibantai Como dengan skor telak 1-4. Hasil buruk ini membuat Manchester United mencatatkan rekor negatif bersejarah di kompetisi antarklub kasta tertinggi di Eropa tersebut.
Bertanding di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Rabu malam, skuat asuhan Erik ten Hag sebenarnya sempat mendapatkan peluang emas melalui kaki Diogo Dalot. Sayangnya peluang tersebut gagal berbuah gol dan justru menjadi awal bencana bagi lini pertahanan tim tamu.
Como yang tampil agresif di bawah guyuran hujan deras langsung membalas lewat aksi individu Nico Paz hanya beberapa detik kemudian. Paz melepaskan tembakan melengkung yang bersarang tepat di sudut atas gawang United. Penjaga gawang United tidak mampu menjangkau bola yang mengarah ke area sulit tersebut.
Gol pembuka tersebut terasa menyesakkan bagi pendukung Setan Merah karena terjadi saat laga bahkan belum genap berjalan dua menit.
Nico Paz merupakan pemain muda berbakat yang sering disebut sebagai calon penerus Lionel Messi di tim nasional Argentina. Pergerakannya yang lincah tidak mampu diredam oleh barisan bek United yang tampak kehilangan koordinasi sejak menit awal pertandingan dimulai.
Catatan kebobolan kilat ini menjadi noda hitam bagi sejarah panjang Manchester United di panggung internasional. Mereka menjadi tim pertama dalam sejarah yang membiarkan lawan mencetak gol dalam dua menit pertama pada dua pertandingan besar Eropa secara berturut-turut.
Sebelumnya, kejadian serupa dialami United saat menghadapi Atletico Madrid di Stadion Wanda Metropolitano pekan lalu. Pablo Barrios mencetak gol pembuka bagi Atletico pada menit pertama laga berjalan. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan tim asal Spanyol yang dipimpin oleh Diego Simeone.
Mantan pemain Chelsea, Joe Cole, memberikan kritik tajam saat bertugas sebagai pengamat sepak bola di saluran televisi TNT Sports.
Menurut Cole, Como bermain jauh lebih terorganisasi dan memiliki kualitas agresivitas yang tidak dimiliki oleh para pemain United. Ia mengibaratkan tim asuhan Cesc Fabregas itu belum mengeluarkan kemampuan terbaiknya meskipun sudah unggul segalanya dari tim tamu sepanjang babak pertama.
Sebagai informasi tambahan, Como merupakan klub yang saat ini dimiliki oleh Hartono bersaudara melalui perusahaan Djarum Group asal Indonesia. Keberhasilan mereka promosi ke kasta tertinggi Liga Italia dan kini bersaing di Liga Champions merupakan pencapaian luar biasa bagi manajemen klub. Keberadaan legenda sepak bola Cesc Fabregas di kursi kepelatihan juga membawa perubahan besar bagi gaya main klub tersebut.
Glenn Hoddle turut menyoroti lemahnya penjagaan bek tengah United terhadap pergerakan Nico Paz sebelum gol pertama tercipta. Hoddle menilai Paz diberikan terlalu banyak ruang untuk mengontrol bola dan mengarahkan tubuh ke arah gawang tanpa tekanan fisik yang berarti.
Dominasi tuan rumah terus berlanjut setelah masa jeda melalui gol kedua yang dicetak oleh penyerang Anastasios Douvikas.
Anastasios Douvikas memanfaatkan kelengahan barisan belakang United yang gagal mengantisipasi umpan silang cepat dari sisi sayap. Nico Paz kemudian menambah pundi-pundi golnya sebelum akhirnya Jacobo Ramon menutup pesta gol Como dengan torehan gol keempat. Skor 4-0 membuat moral para pemain United terlihat runtuh di sisa waktu pertandingan yang tersisa.
Gol hiburan bagi United baru tercipta di penghujung laga lewat sontekan Joshua Zirkzee. Penyerang yang didatangkan dari klub Italia Bologna tersebut memanfaatkan kemelut kecil di depan gawang, namun gol itu tidak memberikan dampak bagi hasil akhir pertandingan.
Kekalahan telak ini semakin memojokkan posisi Erik ten Hag di kursi manajerial Manchester United setelah serangkaian hasil buruk di liga domestik. Timnya kini hanya mengantongi tiga poin dari dua laga pembuka fase liga di kompetisi Liga Champions musim ini.
Satu-satunya kemenangan United diraih saat menghadapi wakil Malaysia, Sabah, pada pertandingan pembuka sebelum akhirnya mereka dipermalukan oleh Atletico Madrid.
Jadwal padat telah menanti skuat United dalam beberapa pekan ke depan untuk memperbaiki posisi mereka di klasemen. Mereka harus segera mengembalikan kepercayaan diri pemain sebelum menjamu Bournemouth di kompetisi Premier League pada hari Minggu mendatang.
Ujian berat lainnya menanti karena setelah itu mereka harus bertandang ke London untuk menghadapi Chelsea di Stadion Stamford Bridge. Laga melawan Chelsea diprediksi menjadi penentu masa depan beberapa pemain kunci di dalam skuat utama yang sedang dalam performa menurun.
Setelah melakoni laga domestik, United dijadwalkan kembali berlaga di kompetisi Eropa dengan menghadapi wakil Italia lainnya, AS Roma. Pertandingan melawan AS Roma akan menjadi sangat menentukan untuk menjaga peluang mereka lolos ke babak selanjutnya tanpa melalui jalur playoff.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor
