Pendapatan Tahunan OpenAI Dikabarkan Anjlok, Jauh dari Proyeksi Awal Investor

Laporan terbaru mengguncang jagat teknologi, mengungkap bahwa proyeksi pendapatan tahunan OpenAI, raksasa di balik ChatGPT, ternyata jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Angka yang mendekati USD 70 miliar sebelumnya dikabarkan, kini direvisi menjadi sekitar USD 50 miliar, memunculkan pertanyaan signifikan tentang valuasi perusahaan.
Koreksi ini muncul dari pengakuan internal perusahaan kepada para investornya. Revisi tersebut mengindikasikan adanya selisih sekitar USD 20 miliar (setara Rp325 triliun, kurs Rp16.250 per USD) dari angka yang sempat beredar di berbagai media massa.
Surat kabar Financial Times melaporkan bahwa OpenAI kini telah memberitahu investornya bahwa pendapatan tahunan mereka "mendekati USD 50 miliar". Angka USD 70 miliar sebelumnya, menurut media tersebut, berasal dari informasi yang dibagikan kepada investor dan merupakan upaya mereka untuk membuat perbandingan langsung dengan pendapatan tahunan Anthropic, pesaing utamanya.
Perbedaan angka ini juga sebagian besar disebabkan oleh metode perhitungan yang tidak seragam. Anthropic, misalnya, turut memperhitungkan penjualan yang dilakukan oleh mitra cloud-nya sebagai bagian dari pendapatan tahunan, sebuah praktik yang tidak diterapkan oleh OpenAI.
Isu mengenai pendapatan ini menjadi sorotan tajam bagi OpenAI. Perusahaan sedang berupaya keras untuk membenarkan investasi besar-besaran yang digelontorkan untuk mendukung operasional dan pengembangan kecerdasan buatan mereka.
Pada Maret lalu, raksasa AI ini berhasil menghimpun dana sebesar USD 122 miliar (sekitar Rp1.980 triliun) dalam satu putaran pendanaan saja. Jumlah investasi fantastis ini mencerminkan tingginya ekspektasi pasar terhadap potensi inovasi OpenAI.
Namun, data keuangan perusahaan yang bocor awal tahun ini menunjukkan bahwa OpenAI, meskipun mencatat pendapatan sekitar USD 13 miliar, mengeluarkan biaya operasional dan riset yang jauh lebih besar. Neraca keuangan yang belum ideal ini menimbulkan tekanan bagi perusahaan untuk menemukan model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Di tengah tantangan finansial ini, rencana IPO OpenAI yang sebelumnya santer dikabarkan akan terwujud tahun ini, terpaksa ditunda hingga awal 2027. Penundaan ini menambah daftar panjang kekhawatiran di kalangan investor dan pengamat industri.
Sebagai pionir dalam pengembangan kecerdasan buatan generatif, OpenAI telah merevolusi banyak sektor dengan produk andalannya seperti ChatGPT. Kehadirannya memicu gelombang investasi besar-besaran di seluruh ekosistem AI, mendorong persaingan ketat untuk mendominasi pasar teknologi masa depan.
Namun, di balik narasi inovasi dan pertumbuhan pesat, ada realitas finansial yang kompleks. Biaya komputasi untuk melatih model AI skala besar sangatlah mahal, memerlukan infrastruktur canggih dan konsumsi energi yang masif. Hal ini, ditambah dengan kebutuhan akan talenta terbaik, menjadikan industri AI sebagai arena dengan modal tinggi.
Laporan pendapatan yang lebih rendah ini berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan penilaian pasar terhadap OpenAI. Perusahaan kini berada di bawah pengawasan ketat untuk menunjukkan bahwa investasinya dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan dalam jangka panjang, bukan hanya janji-janji revolusi teknologi.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482952/original/016557500_1769306120-Victor_Montagliani_1.jpg)