Jalan Mulus Gianni Infantino Kembali Terpilih Jadi Presiden FIFA
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482952/original/016557500_1769306120-Victor_Montagliani_1.jpg)
Gianni Infantino kini memiliki peluang besar untuk kembali menduduki kursi kepemimpinan tertinggi otoritas sepak bola dunia setelah Victor Montagliani memutuskan untuk tidak mencalonkan diri.
Montagliani memilih untuk tetap fokus pada perannya sebagai presiden Concacaf, konfederasi sepak bola yang menaungi kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Keputusan ini secara otomatis menutup ruang baginya untuk menantang Infantino dalam bursa pemilihan presiden FIFA mendatang.
Sebelumnya, Montagliani digadang-gadang sebagai lawan terkuat bagi sang petahana. Prediksi tersebut muncul di tengah kritik keras terhadap rencana Infantino yang ingin menghimpun dana sebesar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp314 triliun melalui penjualan sebagian hak kompetisi, termasuk Piala Dunia.
Rencana tersebut sempat menuai badai penolakan dari berbagai pihak, termasuk ancaman boikot dari UEFA terhadap kompetisi di bawah naungan FIFA. Meski Infantino akhirnya membatalkan gagasan tersebut hanya dalam hitungan hari setelah pengumuman pada Juli lalu, sentimen negatif terhadap kepemimpinannya sempat menguat di berbagai konfederasi seperti AFC dan Concacaf.
Infantino sendiri diprediksi akan melaju tanpa rintangan berarti menuju masa jabatan berikutnya setelah menggantikan Sepp Blatter hampir satu dekade silam. Ia kini hanya perlu mengamankan dukungan dari 106 anggota dari total 211 asosiasi sepak bola nasional yang berafiliasi dengan FIFA.
Mundurnya Montagliani dari bursa calon memberikan keuntungan signifikan bagi tim pemenangan Infantino. Pihak-pihak yang berharap adanya perubahan di tubuh organisasi kini dihadapkan pada keterbatasan waktu, mengingat batas akhir pendaftaran calon akan ditutup pada 18 November.
Upaya mencari alternatif pesaing Infantino pun menemui jalan buntu setelah kandidat lain, seperti mantan pemain timnas Swiss, Ramon Vega, dinyatakan tidak memenuhi syarat pencalonan. Vega dinilai gagal memenuhi kriteria karena kurangnya keterlibatan aktif dalam dunia sepak bola profesional selama dua tahun dalam lima tahun terakhir.
Dengan situasi yang berkembang saat ini, peta persaingan tampaknya akan kembali berpihak kepada status quo. Kelompok penentang kebijakan Infantino kini berada dalam posisi yang sangat sulit untuk menyodorkan nama baru yang memiliki basis dukungan kuat di tingkat global.
Proses pemilihan ini menjadi penentu arah masa depan organisasi sepak bola dunia di tengah berbagai tantangan tata kelola yang terus bergulir. Publik kini menunggu siapa lagi yang berani mengambil langkah untuk maju sebagai penantang sebelum tenggat waktu pendaftaran berakhir.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3096374/original/026331800_1586270096-FotoJet__2_.jpg)












