Psikolog Ungkap Kunci Sederhana Validasi Perasaan Saat Teman Sedih

Menghadapi teman yang sedang dilanda kesedihan dan membutuhkan curahan hati kerap menjadi tantangan tersendiri bagi banyak individu. Niat baik untuk menenangkan justru dapat berbalik arah, membuat sang teman merasa tidak didengarkan dan kian terpuruk.
Kondisi ini seringkali menimbulkan kebingungan dalam memilih diksi yang tepat agar teman merasa nyaman dan dipahami. Padahal, menurut psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman, respons yang efektif tidak memerlukan rangkaian kata yang rumit.
Sebuah frasa sederhana, yakni "Hal itu masuk akal", terbukti dapat memberikan dampak signifikan. Frasa ini tidak hanya membuat seseorang merasa didengar, tetapi juga divalidasi dan dimengerti secara mendalam.
Kekuatan "Hal itu masuk akal" terletak pada kemampuannya untuk mengafirmasi pengalaman, perasaan, hingga sudut pandang seseorang. Bahkan ketika pendengar mungkin memiliki pandangan berbeda, ungkapan tersebut menunjukkan adanya pemahaman terhadap alasan di balik cara pandang mereka.
Menurut Dr. Zuckerman, perbedaan halus ini krusial dalam meruntuhkan sifat defensif individu yang sedang berbagi cerita. Hal tersebut menciptakan lingkungan yang cukup aman bagi mereka untuk terus mengungkapkan diri secara terbuka.
"Ungkapan tiga kata itu menciptakan ruang yang aman dan bebas penghakiman bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara leluasa," jelas Dr. Zuckerman kepada Parade, menyoroti esensi komunikasi yang empatik.
Secara neurologis, proses divalidasi memiliki implikasi positif yang substansial pada otak. Saat seseorang merasa dihargai dan dipahami, respons otak terhadap potensi ancaman atau bahaya cenderung berkurang secara signifikan.
Dr. Zuckerman menjelaskan bahwa kondisi ini menurunkan risiko terjadinya reaksi emosional yang intens, seperti kemarahan, kecemasan, atau sikap defensif. Validasi berperan sebagai mekanisme penenang internal.
Selain meredakan respons stres, koneksi antarmanusia yang terbentuk dari validasi juga memicu pelepasan hormon dopamin dan oksitosin. Hormon-hormon ini memberikan sinyal kepada tubuh bahwa lingkungan sekitar adalah aman, sekaligus menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol.
Sebaliknya, jika kondisi emosional individu tidak stabil, kemampuan berpikir logis dan daya penilaian dapat menurun drastis. Hal ini seringkali membuat seseorang menjadi lebih impulsif dan kesulitan dalam mencari solusi masalah.
Merespons curahan hati dengan kalimat "Apa yang kamu ceritakan masuk akal" tidak sekadar mengakui perkataan lawan bicara, melainkan juga menunjukkan pemahaman. Pendekatan ini mendorong keterbukaan dan memfasilitasi koneksi yang lebih dalam, alih-alih memicu kebutuhan untuk membela diri.
Dalam konteks dukungan emosional, seringkali seseorang tanpa sadar menggunakan frasa "Aku mengerti" dengan niat baik untuk memvalidasi perasaan teman. Mereka bermaksud mengatakan bahwa mereka memahami apa yang dialami, meskipun belum tentu pernah berada di posisi serupa.
Namun, "Aku mengerti" dan "Hal itu masuk akal" memiliki perbedaan dampak psikologis yang mencolok. Dr. Zuckerman mengemukakan bahwa "Aku mengerti" berpotensi membuat perasaan teman tidak divalidasi, terutama jika pendengar tidak memiliki pengalaman serupa.
"Ketika seseorang yang tidak memiliki pengalaman serupa atau senada mengatakan 'Saya mengerti', hal itu secara tidak sengaja dapat membuat perasaan lawan bicara menjadi tidak diakui atau divalidasi," ungkap Dr. Zuckerman. Ia menambahkan, "Ucapan itu bisa membuat rasa sakit atau pengalaman mereka terasa diremehkan atau disalahpahami."
Pernyataan "Aku mengerti" secara tidak langsung menyiratkan bahwa kita tahu persis apa yang sedang dialami orang lain, padahal realitasnya mungkin tidak demikian. Di sinilah peran penting dari frasa "Hal itu masuk akal".
Frasa ini berfokus pada validasi emosi dan perspektif mereka tanpa mengklaim memiliki pengalaman yang identik. Pendekatan ini menjaga agar fokus tetap pada perasaan teman, menciptakan rasa aman tanpa adanya penghakiman.
Dengan demikian, "Hal itu masuk akal" menjadi jembatan komunikasi yang halus namun ampuh. Frasa ini memastikan individu merasa diakui dan dipahami, menghindari kesalahpahaman yang sering terjadi dalam upaya memberikan dukungan emosional.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













