Ratusan Ribu Sakit Akibat Kebakaran Hutan, Warga Indonesia Tuntut Tindakan

Asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sebagian wilayah Indonesia telah menimbulkan dampak kesehatan serius, membuat ratusan ribu orang jatuh sakit. Fenomena ini juga menyelimuti negara-negara tetangga dengan kabut asap yang mengganggu aktivitas.
Kebakaran yang kembali merebak ini disinyalir kuat akibat praktik pertanian yang merusak. Kondisi ini memicu kemarahan publik dan demonstrasi yang menuntut pemerintah segera mengambil tindakan tegas untuk menghentikan bencana lingkungan tahunan ini.
Warga Indonesia, yang menjadi korban langsung dari bencana asap ini, menyuarakan keprihatinan mendalam atas lambatnya respons pemerintah dalam menangani akar permasalahan karhutla. Mereka menuntut akuntabilitas dan kebijakan yang lebih efektif untuk melindungi paru-paru dunia yang tersisa.
Demonstrasi yang terjadi di berbagai kota ini membawa spanduk dan poster bertuliskan seruan untuk menghentikan praktik pembakaran lahan yang seringkali dilakukan secara sengaja untuk membuka lahan perkebunan secara murah. Ratusan ribu warga mengalami masalah pernapasan akibat paparan asap yang berlangsung berminggu-minggu, membebani sistem kesehatan di daerah terdampak.
Lebih dari 200.000 orang dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit pernapasan lainnya akibat kualitas udara yang buruk. Angka ini terus meningkat seiring meluasnya area kebakaran. Bencana ini telah menjadi masalah berulang setiap tahun, terutama saat musim kemarau, yang menunjukkan adanya kegagalan dalam pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.
Pemerintah telah berjanji untuk menindak tegas para pelaku pembakaran hutan, namun janji tersebut kerap kali terasa hampa bagi masyarakat yang terus menerus merasakan dampak buruknya. Kualitas udara di beberapa wilayah bahkan mencapai level berbahaya, memaksa sekolah-sekolah diliburkan dan aktivitas luar ruangan dibatasi.
Kritik tajam dilayangkan oleh para aktivis lingkungan dan masyarakat sipil yang mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengelolaan lahan dan pengawasan terhadap perusahaan perkebunan besar. Mereka menekankan perlunya sanksi yang setimpal bagi korporasi yang terbukti melakukan pelanggaran, bukan hanya kepada individu.
Kekhawatiran juga meluas ke negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang kualitas udaranya turut terpengaruh oleh asap karhutla Indonesia. Peristiwa ini kembali mengangkat isu serius mengenai tanggung jawab lintas batas dalam penanganan masalah lingkungan global.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











