
Lille harus menelan pil pahit setelah dipermalukan Galatasaray dengan skor 2-4 di kandang sendiri pada lanjutan Liga Champions 2026/2027. Hasil minor pada matchday ketiga ini memperpanjang tren negatif skuad asal Perancis tersebut di kancah Eropa.
Kekalahan ini menjadi yang ketiga secara beruntun bagi Lille dalam fase liga kompetisi tertinggi antarklub Benua Biru tersebut.
Bermain di hadapan pendukungnya di Stade Pierre-Mauroy pada Rabu malam waktu setempat, tuan rumah sebenarnya sempat memberikan harapan. Soriba Diaoune mencetak dua gol yang membawa Lille sempat berbalik unggul 2-1 atas tim tamu asal Turki tersebut. Namun, keunggulan itu sirna setelah Galatasaray menyamakan kedudukan tepat sebelum jeda turun minum.
Memasuki babak kedua, koordinasi lini belakang Lille justru semakin rapuh dan kehilangan arah. Galatasaray berhasil menambah dua gol tambahan yang mengunci kemenangan mereka serta membawa pulang tiga poin penuh.
"Menurut saya, apa yang kami lakukan di Liga Champions belum cukup," ujar Carlo Ancelotti, pelatih yang kini menukangi Lille, saat sesi konferensi pers usai laga.
Ia menegaskan bahwa perubahan radikal harus segera dilakukan jika tim ingin menjaga peluang lolos ke babak selanjutnya. Walaupun masih ada beberapa pertandingan sisa dan peluang secara matematis tetap terbuka, ia menuntut para pemain menunjukkan sikap yang berbeda. Kepercayaan diri tim sedang diuji setelah gagal meraih satu poin pun dari tiga pertandingan awal.
Fokus utama kritik sang pelatih tertuju pada kinerja lini pertahanan yang dihuni oleh pemain tim nasional Indonesia, Calvin Verdonk. Verdonk bersama rekan-rekan di barisan belakang dinilai sering kehilangan fokus pada momen yang menentukan hasil akhir pertandingan.
Verdonk yang biasanya tampil disiplin di sisi kiri pertahanan tampak kesulitan membendung skema serangan balik cepat yang diperagakan para pemain depan Galatasaray.
Ancelotti menyebut bahwa gol-gol yang bersarang ke gawang timnya terjadi pada rentan waktu yang sangat spesifik. Gol terjadi di awal laga, sesaat sebelum turun minum, serta pada saat awal babak kedua dimulai. Pola ini menunjukkan adanya masalah konsentrasi kolektif yang belum terpecahkan sejak awal musim kompetisi Eropa tahun ini.
Ia merasa kecewa karena timnya tidak mampu mengelola situasi tekanan pada menit-menit rawan tersebut. Ini bukan pertama kalinya Lille melakukan kesalahan elementer yang harus dibayar mahal dengan kebobolan gol mudah.
Kesalahan kolektif dalam memenangkan duel satu lawan satu serta penempatan posisi di dalam kotak penalti menjadi sorotan tajam. Pelatih menyebut dua gol pertama Galatasaray sebagai contoh nyata dari lemahnya komunikasi antar pemain bertahan. Situasi tersebut serupa dengan apa yang dialami skuadnya ketika menghadapi Real Betis pada pertandingan sebelumnya.
Kekalahan dalam duel udara dan kegagalan menutup ruang gerak lawan di area penalti memberikan keuntungan besar bagi lini serang musuh. Di level Liga Champions, setiap kesalahan kecil akan langsung dihukum oleh tim lawan yang memiliki kualitas individu tinggi.
Ancelotti juga menyayangkan reaksi para pemain setelah timnya tertinggal dua gol pada babak kedua. Alih-alih tetap bermain sebagai satu kesatuan, para pemain justru cenderung melakukan aksi individu yang tidak efektif untuk membongkar pertahanan lawan.
Kekompakan tim yang menjadi kekuatan utama Lille di liga domestik seolah menghilang saat mereka bermain di bawah tekanan kompetisi internasional. "Kami harus berusaha bermain secara kolektif dan menciptakan peluang bersama, bukan mencari solusi melalui aksi individu masing-masing pemain," tutupnya dengan nada tegas.
Para pendukung Lille kini berharap tim segera berbenah sebelum melakoni laga berikutnya untuk menghindari eliminasi dini dari fase liga.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor